Balai Buntar Bengkulu Jadi Pusat Kuliner, Pedagang Minta Fasilitas Parkir

Posted on

Penataan Balai Buntar sebagai Pusat Kuliner di Kota Bengkulu

Gubernur Bengkulu, Helmi Hasan, telah merancang rencana besar untuk mengubah wajah Balai Buntar menjadi pusat kuliner baru di Kota Bengkulu. Rencana ini diharapkan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Proses penataan ini juga bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang lebih tertib, rapi, dan estetis.

Persiapan Awal dan Tantangan

Dalam kunjungan ke lokasi yang akan diubah menjadi pusat kuliner, terlihat tenda-tenda dan meja-meja telah tersusun rapi di sekitar gedung Balai Buntar. Pengunjung, mulai dari pelajar hingga keluarga, dapat menikmati berbagai makanan dan minuman di sana. Sayangnya, belum ada pengelola parkir yang membantu menata kendaraan pengunjung agar tetap rapi dan aman.

Salah satu penjual makanan, Cha Donuts Pumpkin Budi Black, menyampaikan bahwa para pedagang sangat antusias dengan rencana penataan ini. Ia berharap perubahan ini akan membuat tempat mereka lebih nyaman bagi pengunjung.

Fasilitas yang Ada dan Permintaan Tambahan

Saat ini, fasilitas seperti air dan mushola sudah memadai. Namun, Budi juga meminta pemerintah untuk tidak lupa menyediakan fasilitas parkir yang layak. Ia menilai pentingnya fasilitas tersebut untuk kenyamanan pengunjung.

Pendekatan Dialog dan Kesepakatan Bersama

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Bengkulu, Eddyson, menjelaskan bahwa penataan dilakukan melalui pendekatan dialog dan kesepakatan bersama lintas pihak. Pemerintah tidak memilih langkah penggusuran, meskipun secara fungsi awal Balai Buntar bukan diperuntukkan sebagai area berdagang.

“Pemerintah tidak mengusir pedagang. Kita duduk bersama semua pihak untuk mencari solusi terbaik,” ujar Eddyson.

Batas Maksimal Pedagang dan Penataan Lapak

Pemprov Bengkulu menetapkan batas maksimal 150 pedagang yang diperbolehkan berjualan di kawasan Balai Buntar. Jumlah ini ditetapkan setelah dilakukan pengukuran lokasi dan kajian estetika kawasan. Setiap pedagang akan menempati lapak berukuran sekitar 1,5 x 1,5 meter.

Penataan tidak hanya menyasar jumlah dan ukuran lapak, tetapi juga cara penyajian dagangan hingga tampilan produk. Tujuannya adalah untuk membuat UMKM tertata dengan baik, mulai dari penyajian makanan, display barang, sampai visual lapaknya.

Target dan Harapan

Melalui penataan ini, Balai Buntar diharapkan bertransformasi menjadi pusat kuliner yang nyaman, representatif, dan ramah pengunjung. Pemerintah menargetkan kawasan ini menjadi salah satu destinasi wisata kuliner unggulan di Kota Bengkulu.

Terkait kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD), Eddyson menyebut belum ada ketetapan resmi. Saat ini pemerintah masih menyusun regulasi melalui tim khusus karena kawasan tersebut merupakan aset milik daerah.

Kerja Sama dan Seleksi Pedagang

Dari sisi fasilitas, Pemprov Bengkulu juga menjajaki kerja sama dengan Bank Bengkulu untuk penyediaan tenda bagi pedagang. Namun, fasilitas tersebut baru akan direalisasikan setelah proses penataan dan verifikasi pedagang selesai.

Seleksi pedagang akan dilakukan secara ketat. Pemerintah akan menelusuri rekam jejak pedagang untuk mencegah praktik kepemilikan lapak ganda oleh pedagang yang sudah berjualan di lokasi lain.

“Kita akan tracking. Jika ada pedagang yang tiga hari berturut-turut tidak berjualan, akan kita keluarkan. Kita ingin pedagang yang benar-benar serius,” tutup Eddyson.

Masa Depan Balai Buntar

Dengan penataan ini, Pemprov Bengkulu berharap Balai Buntar tidak hanya menjadi ruang aktivitas ekonomi, tetapi juga ruang publik yang tertib, indah, dan memberikan nilai tambah bagi pelaku UMKM serta citra Kota Bengkulu.