Cek Tokopedia: Kaktus Jepang Disulap Jadi Menu Lezat, dari Tempura Sampai Ramen!

Posted on


PasarModern.com

Fenomena kuliner unik tengah berkembang di Jepang. Sebab, kaktus kini mulai dilirik sebagai bahan makanan alternatif yang semakin diminati.

Tak lagi sekadar tanaman hias, beberapa jenis kaktus yang bisa dimakan (edibel) tampil dalam berbagai sajian kuliner modern dan tradisional.

Meski terdengar tak lazim, tanaman berduri ini mulai muncul dalam beragam hidangan, seperti quiche, roti panggang pizza, sate, tempura, mie, hingga ramen.

Popularitasnya terus meningkat, terutama jenis kaktus pir berduri (

Opuntia ficus-indica

) yang dikenal kaya akan serat, mineral, dan beragam nutrisi bermanfaat lainnya.

Inovasi ini tidak hanya memperluas ragam kuliner Jepang, tetapi juga mencerminkan tren makanan sehat yang menggabungkan cita rasa unik dengan manfaat gizi.

Manfaat kaktus bagi kesehatan

Diberitakan

Kyodo News

, Sabtu (28/6/2025), Miki Deguchi, salah satu dari segelintir petani di Jepang yang membudidayakan kaktus untuk konsumsi mengaku optimistis bahwa tanaman kaya nutrisi ini suatu hari nanti bisa menjadi bagian dari pola makan sehari-hari masyarakat.

Kaktus pir berduri dari genus

Opuntia

kian dilirik karena kandungan serat, mineral, dan nutrisinya yang melimpah.

Rasanya yang ringan dan segar bahkan membuatnya enak disantap mentah tanpa perlu dimasak.

Keyakinan akan potensi besar tanaman ini semakin diperkuat oleh langkah akademik.

Tahun lalu, Chubu University mendirikan Pusat Inisiatif Penelitian untuk tanaman kaktus dan sukulen di Kota Kasugai, Prefektur Aichi, daerah yang dikenal sebagai pelopor budidaya kaktus hias di Jepang.

Penelitian menunjukkan, tikus yang mengonsumsi bubuk buah kaktus memiliki kadar musin lebih tinggi, sejenis protein pelindung di usus yang dapat meningkatkan sistem imun dan menghambat virus.

“Kaktus memiliki potensi besar sebagai makanan fungsional,” ujar Mamoru Tanaka, dosen bidang pangan dan gizi yang terlibat dalam riset tersebut.

Dari petani kaktus ke menu sajian restoran

Di kaki pegunungan yang subur di kawasan satoyama Kasugai, Miki dan suaminya, Motohiko, telah menanam lebih dari 700 pohon kaktus pir berduri sejak pertama kali belajar menanamnya pada 2015.

Tanaman mereka diberi nama Taiyonoha atau “Daun Matahari” dan dijual dengan harga sekitar 1.800 yen (sekitar Rp 180.000) per kilogram di pasar daring maupun supermarket lokal.

Selain dijadikan bahan makanan di restoran-restoran mewah di Aichi, kaktus jenis ini juga dipasarkan sebagai pakan hewan peliharaan seperti kura-kura.

Meski kaktus pir berduri telah lama dikonsumsi di Amerika Latin, keluarga Deguchi bertekad memperkenalkannya dalam gaya Jepang.

“Kami ingin mengenalkan cara menikmati pir berduri dengan cita rasa lokal,” ujar Miki.

Situs web mereka bahkan menyajikan resep-resep seperti quiche (pie) kaktus yang lembut, serta rekomendasi penyajian sederhana seperti disantap dengan nasi dan taburan serpihan ikan bonito.

Selain tahan terhadap cuaca ekstrem dan tidak membutuhkan pestisida, kaktus milik keluarga Deguchi juga mampu bertahan dalam kondisi tanah yang tergenang air.

Kasugai sendiri telah dikenal sebagai sentra kaktus hias sejak 1953, dan kini berkembang menjadi pusat budidaya tanaman kaktus terkemuka di Jepang.

Di kota ini, selain keluarga Deguchi, hanya ada satu petani lain yang menanam kaktus edibel.

Sekitar 10 restoran di kota ini juga telah memasukkan kaktus ke dalam menu mereka, mulai dari ramen hingga kudapan manis.

Kaktus edibel punya potensi hadapi krisis pangan dan iklim

Dilansir dari

South China Morning Post

, Sabtu (28/6/2025), tak hanya digemari sebagai bahan kuliner unik, kaktus yang dapat dimakan kini mulai dipandang sebagai solusi masa depan oleh para ahli di Jepang maupun mancanegara.

Mereka menyoroti potensi tanaman ini sebagai alternatif pangan tangguh di tengah tantangan global seperti lonjakan populasi dan perubahan iklim.

Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pernah mengangkat pentingnya kaktus pir berduri dalam laporan tahun 2017.

Dalam laporan itu, FAO menekankan bahwa tanaman ini mampu bertahan di wilayah kering dan rawan kekeringan, menjadikannya sumber makanan, air, dan pakan ternak yang berkelanjutan.

Kaktus bahkan telah dibudidayakan di sekitar 30 negara sebagai bahan pangan dan pakan, sehingga membuktikan daya adaptasinya yang luar biasa.

Di dalam negeri, minat terhadap kaktus pir berduri juga terus tumbuh. Pada Mei lalu, jaringan ritel besar Watahan Super Centre mulai memasarkan tanaman ini di sejumlah gerainya di Jepang.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kaktus sebagai bagian dari sayuran konsumsi sehari-hari.

“Kami ingin meningkatkan kesadaran masyarakat dan menjadikan kaktus sebagai sayuran yang umum ditemukan di meja makan orang Jepang,” ujar salah satu perwakilan Watahan.