Iklan Makanan Olahan Ancam Generasi Obesitas

Posted on

Peran Iklan Makanan Olahan dalam Mengancam Kesehatan Masyarakat

Iklan makanan dan minuman olahan kini semakin marak di berbagai media, baik secara online maupun offline. Mulai dari iklan di media sosial, iklan di televisi, hingga papan reklame di jalan raya, semua memberikan kesan bahwa produk-produk tersebut aman untuk dikonsumsi. Namun di balik rasa yang lezat dan praktis, makanan olahan menyimpan ancaman serius terhadap kesehatan jangka panjang.

Menurut David Colozza, seorang ahli gizi dari UNICEF Indonesia, iklan makanan tidak sehat semakin menyebar luas, terutama melalui kanal digital dan media tradisional. Anak-anak Indonesia memiliki peluang besar untuk terpapar iklan makanan tidak sehat secara online. Hal ini disampaikan oleh David dalam acara diskusi mengenai studi ‘Pemasaran Makanan yang Tidak Sehat’.

Untuk memahami dampak iklan makanan tidak sehat terhadap kesehatan masyarakat, UNICEF bekerja sama dengan U-Report dan FixMyFood. U-Report adalah platform komunikasi UNICEF Indonesia untuk generasi muda, sedangkan FixMyFood adalah inisiatif yang bertujuan menciptakan lingkungan makanan yang lebih sehat, khususnya di Asia Timur dan Pasifik.

Hasil survei U-Report pada periode Juli-Agustus 2024 terhadap 7.853 responden menunjukkan bahwa 75% dari mereka sering terpapar iklan minuman manis, makanan cepat saji, dan camilan kemasan. Sebagian besar responden menemukan iklan tersebut di media sosial (74%), internet (58%), dan televisi (54%). Selain itu, 60% responden melihat iklan yang menampilkan atlet, selebritas, influencer, atau kartun. Dari jumlah tersebut, 54% merasa tergoda untuk membeli produk yang dipromosikan, sementara 9% sering membeli, dan 3% selalu membeli.

Kandungan Nutrisi yang Mengkhawatirkan

David menjelaskan bahwa sebagian besar produk yang dipromosikan melebihi ambang batas gizi Model Profil Gizi (NPM) untuk lemak, gula, natrium, dan kalori. Hal ini menunjukkan bahwa produk-produk tersebut tidak layak untuk dikonsumsi anak-anak. Konsumsi berlebihan zat-zat tersebut dapat memicu kelebihan berat badan hingga obesitas, serta gangguan kesehatan lainnya.

Shafa Syahrani, anggota tim peneliti FixMyFood Indonesia, menambahkan bahwa jumlah anak yang mengalami kelebihan berat badan di Asia Timur dan Pasifik meningkat dalam dua dekade terakhir. Penyebab utamanya adalah akses yang mudah terhadap makanan tidak sehat, harga yang murah, dan promosi yang masif. Selain itu, anak-anak juga kurang memiliki waktu dan ruang untuk beraktivitas fisik.

Dalam riset FixMyFood yang melibatkan 223 tanggapan dari 46 remaja usia 14-24 tahun, ditemukan bahwa 43% anak muda memilih makanan berdasarkan penampilan, aroma, dan penyajian. Temuan ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik visual dan sensori dalam memengaruhi keputusan konsumsi. Selain itu, 13% responden mengatakan bahwa pilihan makanan mereka dipengaruhi oleh apa yang tersedia di sekitar mereka atau dalam rutinitas harian.

Faktor Ekonomi dan Pengaruh Iklan

Harga menjadi faktor penting bagi anak muda dalam memilih makanan. 27% responden mengatakan lebih memilih makanan yang murah dan mengenyangkan. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi sering kali mendorong pola makan tinggi kalori namun rendah gizi, terutama di kalangan pelajar.

Selain itu, 11% responden mengaku makan lebih banyak dari yang direncanakan karena terpengaruh oleh promosi porsi besar dan pemasaran makanan. Mayoritas anak muda sadar bahwa iklan memengaruhi pilihan makanan mereka, meskipun ada juga yang meragukan pengaruhnya. Sebanyak 90,9% responden setuju bahwa iklan memiliki pengaruh kuat terhadap keputusan anak muda dalam memilih makanan.

Dampak Jangka Panjang dan Beban Kesehatan

Alison Feeley, ahli gizi dari UNICEF East Asia and Pacific Regional Office (EAPRO), menjelaskan bahwa perubahan lingkungan pangan menyebabkan perubahan perilaku dan asupan makanan. Tingginya konsumsi minuman manis, makanan cepat saji, dan camilan kemasan, serta rendahnya konsumsi buah dan sayur, serta kurangnya aktivitas fisik, menjadi faktor utama.

Makanan ultra-olahan, yang diformulasikan secara industri dan mengandung bahan kimia, aditif, dan pengawet, memiliki dampak negatif terhadap kesehatan. Industri makanan dan minuman ringan menghabiskan lebih dari USD 33 miliar untuk iklan pada 2020.

Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan, mengingatkan bahaya konsumsi gula, garam, dan lemak berlebihan. Jika tidak terkontrol, hal ini dapat memicu penyakit tidak menular seperti stroke, penyakit jantung iskemik, sirosis hepatis, dan tuberkulosis.

Beban penyakit tidak menular di Indonesia sangat besar, dengan biaya pengobatan yang tinggi dan dampak signifikan terhadap kualitas hidup. Pada tahun 2023, total pembiayaan penyakit katastropik mencapai Rp 34,8 triliun, termasuk penyakit jantung, kanker, stroke, gagal ginjal, dan lainnya.

Pentingnya Kontrol Konsumsi Makanan Sehat

Siti Nadia menekankan bahwa obesitas menjadi ancaman serius bagi pembangunan kesehatan. Angka prevalensi obesitas meningkat dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir. Obesitas dapat memicu berbagai penyakit seperti diabetes, kanker, hipertensi, dan gangguan mental.

Untuk mengurangi beban kesehatan, penting bagi masyarakat untuk mengendalikan konsumsi makanan dan minuman sehat. Dengan kesadaran yang tinggi, masyarakat dapat memilih pangan yang lebih bergizi dan menghindari produk olahan yang berbahaya.