Kisah Pengusaha Kuliner Malang yang Sukses dengan Dapur MBG

Posted on

Dapur Makan Bergizi Gratis: Usaha yang Berdampak Sosial dan Ekonomi

Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau yang dikenal juga dengan nama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Malang menjadi salah satu inisiatif yang menarik perhatian masyarakat. Tidak hanya berperan dalam membantu program pemerintah, usaha ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi pengusaha lokal.

Makhrus Soleh, Ketua Pembina Yayasan Kartika Nawa Indonesia sekaligus pemilik Dapur MBG di Jalan Trunojoyo, mengungkapkan bahwa menjalankan usaha ini tidak hanya menjadi ladang pahala, tetapi juga memiliki potensi keuntungan yang menjanjikan. Meski belum bisa menyebutkan jumlah pasti, ia mengatakan bahwa usaha ini kini lebih menguntungkan dibandingkan bisnis lain seperti restoran atau properti.

Awalnya, ketika Dapur MBG mulai beroperasi pada November-Desember 2024 di Bululawang, Makhrus tidak terlalu memikirkan untung rugi. Namun, saat ini setelah beberapa bulan berjalan, ia merasa bahwa usaha ini sudah mulai memberikan hasil yang baik. “Misi utama kami adalah mendukung program Bapak Presiden untuk generasi emas 2045,” ujarnya.

Meskipun awalnya ada tantangan, kini sistem kerja telah lebih terorganisir. Sebelumnya, pembayaran sering tertunda, namun kini sudah ada deposit di rekening yayasan sehingga setiap hari dapat diproses. Hal ini memberikan rasa aman dan kepercayaan kepada pelaku usaha.

Dapur MBG milik Makhrus kini memiliki kapasitas produksi hingga 4.000 paket makanan lengkap setiap hari. Setiap paket terdiri dari protein, karbohidrat, sayur, buah, dan susu. Pada hari pertamanya, dapur ini telah mendistribusikan 3.200 paket kepada siswa SD, SMP, dan SMA di sekitar wilayah Klojen.

Selain itu, Dapur MBG juga memberikan dampak sosial yang positif. Salah satunya adalah membuka lapangan kerja. Setiap SPPG menyerap sekitar 50 tenaga kerja baru dari lingkungan sekitar. Selain itu, UMKM lokal juga ikut terlibat dalam suplai bahan baku.

Dampak Sosial dan Ekonomi yang Signifikan

Tidak hanya memberikan kesempatan kerja, Dapur MBG juga menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Dengan adanya program ini, diharapkan dapat menekan angka stunting dan meningkatkan kualitas pendidikan melalui pemberian makanan bergizi kepada anak-anak.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengapresiasi inisiatif ini sebagai bagian dari implementasi program strategis nasional. Ia menilai bahwa Dapur MBG dapat menjadi kekuatan untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat. “Ini menjadi kekuatan untuk memperbaiki kualitas pendidikan dan menekan angka stunting,” ujarnya.

Ia juga memuji pengalaman Makhrus di bidang kuliner yang menjadi jaminan kualitas makanan sesuai standar Badan Gizi Nasional (BGN). Namun, Wahyu juga mengakui bahwa cakupan program MBG di Kota Malang masih jauh dari target. Oleh karena itu, ia berharap pengusaha lainnya di Kota Malang dapat tergugah untuk mendirikan SPPG.

Potensi Keuntungan yang Menjanjikan

Selain manfaat sosial, Dapur MBG juga menawarkan peluang bisnis yang menarik. Makhrus mengungkapkan bahwa pesanan harian mencapai 3.000 hingga 4.000 paket. Ini jauh lebih besar dibandingkan jumlah pengunjung di rumah makannya yang berkisar seribu orang per hari.

Dapur MBG yang didirikan di Klojen merupakan yang kedua setelah yang pertama di Bululawang, Kabupaten Malang. Dengan kapasitas produksi yang besar, usaha ini tidak hanya memberikan kontribusi sosial, tetapi juga menjadi sumber penghasilan yang stabil.

Dalam waktu dekat, Dapur MBG akan terus memperluas cakupan layanan, termasuk untuk ibu hamil dan ibu menyusui. Hal ini menunjukkan komitmen yang kuat untuk menjaga kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Dengan kombinasi antara manfaat sosial dan potensi ekonomi, Dapur Makan Bergizi Gratis menjadi contoh nyata bagaimana usaha lokal dapat berkontribusi pada keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat.