Kunci Jawaban Bab 5: Dasar-Dasar Kuliner Kelas 10 SMK/MAK Semester 1

Posted on

Kunci Jawaban Mata Pelajaran Dasar-Dasar Kuliner SMK/MAK Kelas 10 Semester 1, Bab 5 “Keamanan Pangan”

Berikut ini adalah kunci jawaban untuk mata pelajaran Dasar-Dasar Kuliner SMK/MAK kelas 10 Semester 1, bab 5 yang berjudul “Keamanan Pangan”. Soal ini mencakup tes tertulis berupa pilihan ganda dan soal uraian, yang terdapat pada halaman 103 hingga 105.

Buku ini diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi dengan ISBN 978-602-244-997-3. Buku ini ditulis oleh Nurul Hasbiana. Kunci jawaban ini dapat digunakan sebagai panduan orang tua dalam mendampingi anak belajar. Namun, pastikan siswa mengerjakan soal secara mandiri terlebih dahulu agar memperoleh pemahaman yang maksimal.

Tes Tertulis: Pilihan Ganda

  1. Hal berikut ini yang bukan merupakan ruang lingkup program Clean, Health, Safety and Environment (CHSE) adalah . . . .
  2. A. Kebersihan.
  3. B. Kesehatan.
  4. C. Keselamatan.
  5. D. Kebersamaan.
  6. E. Kelestarian lingkungan.
    Jawaban: D. Kebersamaan

  7. Suatu bahan atau zat yang benar-benar ada dan sangat mungkin merugikan orang yang memakannya disebut . . . .

  8. A. Bahaya pangan.
  9. B. Risiko pangan.
  10. C. Keamanan pangan.
  11. D. Keselamatan pangan.
  12. E. Kesehatan pangan.
    Jawaban: A. Bahaya pangan

  13. Contoh bahaya biologis pada makanan adalah . . . .

  14. A. Solanin.
  15. B. Aflatoksin.
  16. C. Cemaran salmonella.
  17. D. Isi satpler.
  18. E. Kerikil.
    Jawaban: C. Cemaran salmonella

  19. Bahan kimia berbahaya yang sering digunakan sebagai pewarna adalah . . . .

  20. A. Aspartam.
  21. B. Rhodamin B.
  22. C. Monosodium glutamat.
  23. D. Curcumin.
  24. E. NaCl.
    Jawaban: B. Rhodamin B

  25. Berdasarkan hasil observasi mandiri, terlihat muncul jamur pada roti tawar yang telah disimpan selama dua minggu. Jamur tersebut termasuk bahaya makanan dari kategori . . . .

  26. A. Biologis.
  27. B. Fisik.
  28. C. Kimia.
  29. D. Bahan tambahan pangan.
  30. E. Pengawet.
    Jawaban: A. Biologis

  31. Berikut ini yang bukan termasuk upaya menjaga personal hygiene adalah . . . .

  32. A. Memotong kuku tangan dan kaki.
  33. B. Mencegah bau badan.
  34. C. Mengenakan apron.
  35. D. Menyapu lantai.
  36. E. Mencuci tangan sebelum menyentuh makanan.
    Jawaban: D. Menyapu lantai

  37. Berikut ini yang bukan termasuk bagian dari syarat tempat penyimpanan kering adalah . . . .

  38. A. Tidak dapat dimasuki lalat dan antihama.
  39. B. Memiliki cukup ventilasi dan ruangan yang terang.
  40. C. Jangan sampai kelebihan persediaan.
  41. D. Memastikan pintu ditutup rapat agar hama tidak masuk.
  42. E. Suhu 5 Celsius atau di bawahnya.
    Jawaban: E. Suhu 5 Celsius atau di bawahnya

  43. Kepanjangan dari HACCP adalah . . . .

  44. A. Hazard Anatomy Critical Control Point
  45. B. Hazard and Critical Control Point
  46. C. Hazard Analysis Critical Control Point
  47. D. Hazard Analysis Crucial Control Point
  48. E. Hazard and Crucial Control Point
    Jawaban: C. Hazard Analysis Critical Control Point

  49. Analisis bahaya pangan dengan tingkat keparahan serious sickness terhadap konsumen jika terkena bahaya tersebut berarti . . . .

  50. A. Mengakibatkan kematian
  51. B. Mengakibatkan sakit yang serius
  52. C. Mengakibatkan sakit sehingga produk harus ditarik dari pasaran
  53. D. Mengakibatkan keluhan pelanggan
  54. E. Tidak signifikan
    Jawaban: A. Mengakibatkan kematian

  55. Pada penerapan HACCP, monitoring dilakukan dengan tujuan . . . .

    • A. Menentukan batas kritis
    • B. Mengidentifikasi bahaya yang dapat timbul
    • C. Memudahkan pelacakan proses operasional
    • D. Melakukan koreksi jika terjadi penyimpangan
    • E. Mengeliminasi produk.
      Jawaban: C. Memudahkan pelacakan proses operasional

Soal Uraian

  1. Apa pentingnya penerapan Clean, Health, Safety, and Environment (CHSE) bagi industri kuliner?
    Jawaban: Pentingnya CHSE bagi industri kuliner, yaitu memberikan jaminan terhadap masyarakat bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi protokol kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan.

  2. Makanan yang aman berarti makanan tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan dan budaya masyarakat setempat. Apa maksud pernyataan tersebut?
    Jawaban: Makanan yang aman berarti makanan tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan dan budaya masyarakat setempat. Artinya, makanan tersebut tidak dilarang sehingga tidak mendatangkan marabahaya atau dosa bagi orang yang mengonsumsinya.

  3. Identifikasilah tiga bahaya dan risiko keamanan pangan yang dapat terjadi! Bagaimana cara mencegahnya?
    Jawaban:

  4. A. Bahaya biologis: Contohnya, air yang terkontaminasi Escherichia coli. Risiko (Diare, sakit perut, dan muntah). Pencegahan (Melakukan pemanasan hingga suhu 100°C).
  5. B. Bahaya fisik: Contohnya, terdapat kerikil atau benda asing di hidangan nasi. Risiko (Tertelan dan sakit perut). Pencegahan (Melakukan penyortiran beras sebelum dimasak dan saat nasi akan disajikan).
  6. C. Bahaya kimia: Contohnya, kentang yang mengandung solanin. Risiko (Pusing, sakit perut, dan muntah). Pencegahan (Buang bagian kentang yang berwarna hijau sebelum dimasak).

  7. Identifikasilah tiga bahan makanan yang disimpan dalam tempat penyimpanan kering, tiga bahan makanan yang disimpan dalam tempat penyimpanan dingin, dan tiga bahan makanan yang disimpan dalam tempat penyimpanan beku!
    Jawaban:

  8. A. Tepung terigu, kacang tanah, dan ikan kaleng. Cara Penyimpanan (Simpan pada tempat penyimpanan yang kering dengan suhu sekitar 20°C).
  9. B. Sayur, buah, dan susu. Cara Penyimpanan (Simpan pada tempat penyimpanan dengan suhu 2° – 5°C).
  10. C. Daging beku, ayam beku, dan olahannya. Cara Penyimpanan (Simpan pada tempat penyimpanan beku dengan suhu yang direkomendasikan di bawah -18°).

  11. Apa yang akan terjadi jika batas kritis dalam penerapan HACCP tidak diterapkan dengan baik? Uraikan alasannya!
    Jawaban: Batas kritis pada HACCP digunakan untuk menunjukkan aman atau tidak aman bagi bahan makanan sehingga proses produksi dapat dikelola agar tetap aman. Jika hal ini tidak diterapkan dengan baik akan terjadi penyimpangan sehingga keamanan pangan tidak terjamin.