Lele Jadi Tumbuhan Berkah di Rembang, Dukung Peternak Lokal

Posted on

Program Makan Bergizi Gratis Berdampak Positif di Sekolah Dasar Negeri 1 Soditan

Enam bulan telah berlalu sejak peluncuran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Rembang. Salah satu sekolah yang langsung merasakan manfaat dari program nasional ini adalah SDN 1 Soditan, Kecamatan Lasem, Jawa Tengah. Sejak awal pelaksanaan, siswa dan guru di sekolah ini telah menikmati manfaat dari MBG.

Pada pertengahan Agustus lalu, pelaksanaan MBG di SDN 1 Soditan berlangsung dengan tertib dan penuh keceriaan. Para siswa berkumpul di halaman sekolah untuk mengikuti pengajian rutin sebelum sesi makan bersama dimulai. Pukul 07.15 WIB, mobil boks milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tiba membawa makanan yang sudah disusun rapi di piring stainless steel. Guru-guru kemudian bergotong-royong menurunkan dan menyiapkan hidangan di gazebo sekolah.

Setelah pengajian, makanan mulai dibagikan. Seluruh siswa dan guru melakukan doa sebelum menyantap sarapan. Menu hari itu terdiri dari nasi, tempe, ikan lele, buah anggur, mentimun, dan kol. Keberadaan lauk ikan lele menjadi variasi baru dalam menu MBG. Ini merupakan hasil perjuangan Pemkab Rembang melalui Dinas Kelautan dan Perikanan agar program ini juga mendukung para pembudidaya lele lokal.

Siswa dari kelas I hingga VI tampak menikmati sajian dengan antusias. Bahkan anak kelas I sudah terbiasa memisahkan duri ikan lele sendiri. Setelah selesai makan, mereka mengumpulkan piring ke tempat yang ditentukan, lalu mencuci tangan dan berkumur menggunakan sabun dan air bersih.

Salah satu siswa kelas II, Nabila, mengaku senang dengan menu yang diterimanya. “Senang makan bersama teman-teman. Tadi ada anggur, lele, tempe, sama nasi. Suka lele, sering makan di rumah,” ujarnya dengan polos.

Program MBG di SDN 1 Soditan tidak hanya memberikan asupan gizi bagi anak-anak, tetapi juga menumbuhkan kebiasaan makan sehat, kebersamaan, dan kemandirian sejak dini.

Produk Olahan Lokal Digunakan dalam MBG, Mendorong Ekonomi Warga

Dampak dari program MBG turut meningkatkan konsumsi produk olahan ikan lokal di Kabupaten Rembang. Dua jenis produk unggulan, yakni bandeng presto dan bakso ikan, kini menjadi bagian rutin dari menu yang disajikan di SPPG.

Kepala Bidang Bina Usaha dan Peningkatan Daya Saing Dinas Kelautan dan Perikanan (Dinlutkan) Rembang, Nurida Andante, menjelaskan bahwa produk-produk yang direkomendasikan berasal dari unit pengolahan bersertifikat yang telah memenuhi standar kelayakan. “Kalau ada masalah, kami bisa langsung telusuri dengan cepat karena semua mitra sudah terstandardisasi dan berada dalam pengawasan kami,” ujarnya.

Selain bandeng presto dan bakso ikan, varian menu lain yang sedang didorong oleh Pemkab Rembang adalah produk olahan lokal seperti lele fillet. Nurida menyampaikan dukungan dari para pembudidaya lele untuk program ini guna menjamin ketersediaan pasokan bahan baku.

“Untuk satu SPPG saja, kebutuhan lele bisa mencapai 350 kilogram. Itu jumlah yang besar,” ucap Dante kepada tim Rembang Today.

Jaminan Kualitas dan Keamanan Produk Olahan Lokal

Untuk memastikan kualitas dan keamanan produk, Kepala Dapur Sehat turut turun langsung ke lokasi pengolahan guna menyaksikan proses produksi mulai dari pemilihan bahan hingga tahap pengemasan. Semua proses dilakukan sesuai dengan SOP yang ketat.

Distribusi produk dilakukan melalui Koperasi Mitra Mina Lestari, yang telah ditunjuk sebagai mitra resmi MBG di Rembang. Skema ini dinilai lebih aman dari segi hukum dan administrasi karena seluruh transaksi dilakukan melalui koperasi, bukan langsung ke pelaku usaha.

“Dengan model ini, legalitas dan pertanggungjawaban jelas. Pemesanan dan pembayaran dikelola koperasi,” kata Kepala Bidang Bina Usaha dan Peningkatan Daya Saing Dinlutkan Rembang.

Setiap minggu, koperasi ini mampu menyuplai lebih dari 200 kilogram bakso ikan dan sekitar 1.500 ekor bandeng presto ke dua SPPG. Meski masih terbatas, kapasitas ini perlahan ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan seluruh SPPG yang akan beroperasi.

“Pemesanan harus dilakukan satu minggu sebelumnya karena mereka perlu waktu untuk produksi sesuai pesanan,” jelasnya.

Nurida menambahkan, kehadiran program MBG tidak hanya menyehatkan pelajar, tetapi juga membuka peluang pasar baru bagi pelaku usaha olahan ikan di Rembang. Lonjakan permintaan ini diharapkan mampu menggerakkan roda ekonomi lokal, khususnya di sektor perikanan.

MBG Mendukung Kearifan Lokal

Menariknya, apa yang terjadi di Rembang saat ini telah disoroti oleh Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi), Meutya Hafid pada 6 Januari 2025 lalu. Ketika meninjau lokasi distribusi MBG di Depok, Meutya menyarankan agar menu MBG dapat memenuhi potensi olahan lokal masing-masing daerah.

“Jadi Indonesia ini ragam masakannya juga banyak. Dari Sabang sampai Merauke. Kita enggak mau paksakan satu rasa untuk seluruh anak di Indonesia. Jadi memang ini salah satu yang kita dorong. Hal ini untuk mendorong kearifan lokal di daerah sesuai,” ucap Meutya saat meninjau program MBG.

Meski begitu, ia memastikan bahwa anggaran untuk setiap anak tetap sama, namun yang disesuaikan hanya menunya saja.

“Termasuk juga lidah anak-anaknya mungkin beda ya di daerah apa. Mereka lebih suka makan apa dan lain-lain,” sambungnya.

Usulan ini dapat menjadi win-win solution bagi anak-anak di daerah agar nutrisinya tetap terjamin sesuai dengan cita-cita Presiden Prabowo. Pengusaha pangan lokal pun juga bisa tumbuh.