Sejarah dan Keunikan Pasar Sendeng Salubarani
Pasar Sendeng Salubarani adalah salah satu pasar tradisional yang terletak di Kelurahan Salubarani, Kecamatan Gandangbatu Sillanan, Kabupaten Tana Toraja. Pasar ini memiliki keistimewaan tersendiri bagi warga setempat. Dikenal dengan sebutan “male ma’pasa’ Salubarani”, pasar ini hanya buka sekali dalam seminggu, yaitu hari Sabtu. Setiap minggu, warga dari berbagai daerah berkumpul untuk berbelanja dan bersilaturahmi.
Setiap hari Sabtu, jalan trans Sulawesi di sekitar perbatasan Tana Toraja dan Enrekang akan sedikit macet. Hal ini disebabkan oleh kurangnya area parkir di pasar tersebut. Bahu jalan negara menjadi pilihan utama bagi pengunjung untuk memarkir kendaraan mereka.
Pasar ini memiliki lokasi strategis karena berada di tapal batas dua kabupaten, Tana Toraja dan Enrekang. Oleh karena itu, dominasi pedagang berasal dari wilayah tetangga. Bagi warga yang tinggal di sekitar Kecamatan Gandangbatu Sillanan, Mengkendek, Alla, dan Curio, Pasar Sendeng Salubarani memiliki makna khusus. Keistimewaan ini sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat setempat.
Sejak pukul 5 pagi, puluhan mobil angkutan tua berangkat dari berbagai penjuru kampung. Mereka membawa penumpang dan hasil bumi. Pasar Sendeng dibuka mulai pukul 6 pagi hingga pukul 3 sore. Mayoritas pedagang berasal dari Kabupaten Enrekang, menjual berbagai barang seperti pakaian, ikan, peralatan rumah tangga, elektronik, dan sayuran. Hanya beberapa pedagang barang campuran dan kaki lima yang merupakan warga lokal Toraja.
Area pasar cukup luas dengan empat bangunan lapak utama. Sekeliling pasar dipenuhi warung-warung makan khas Toraja. Di sini, pengunjung dapat menemukan makanan lokal seperti sokko’, nasi dengan lauk ayam dan ikan. Tidak ketinggalan, ada beberapa warung yang menjual minuman alkohol khas Toraja, yaitu tuak.
Bagian paling selatan pasar ditempati oleh penjual ikan basah dan kering, yang berdempetan dengan penjual kue dan sayur. Pasar ini sangat dinantikan oleh warga setiap pekan. Selain berbelanja, pasar juga menjadi ajang pertemuan dan silaturahmi antar warga dari pelosok perbatasan kedua kabupaten.
Keistimewaan Pasar Sendeng Salubarani adalah kuliner tradisional. Terdapat sajian makanan khas perpaduan budaya perbatasan, yaitu piong beras ketan hitam yang dicampur dengan mie kacang. Menu ini tidak bisa ditemukan di pasar lain di Toraja. Hanya ada di Pasar Sendeng.
Beberapa warung dengan sekat dari tirai (bahasa lokal Karorro’) menyajikan kuliner tradisional ini. Mie basah yang disiram dengan kuah kaldu panas, ditambah bawang goreng, irisan daun seledri, dan saus kacang sangat menggugah selera. Aroma khasnya membuat perut dan otak langsung bereaksi saat melintas di dekat lapak.
Untuk menikmati mie kacang ini, harus dalam suasana kuah yang panas. Sensasi makin lengkap saat sepotong piong ketan hitam dimakan bersama mie kacang. Aroma wangi piong sangat pas dengan kuah kacang yang gurih. Jika ingin suasana lebih panas, cukup tambahkan cabai tumbuk.
Sambil makan, pengunjung biasanya bercerita pengalaman di perantauan atau aktifitas selama seminggu. Warung-warung penjual piong dan mie kacang tak pernah sepi dari pembeli. Bahkan, sebelum tengah hari, mie kacang sudah habis.
Selain mie kacang dan piong, masih ada kuliner klasik lainnya, yaitu kalembo’ pangandu’ (bubur susu kerbau). Bubur ini terbuat dari beras ketan hitam yang disiram dengan susu kerbau asli. Lagi-lagi, kuliner ini hanya ada di Pasar Sendeng Salubarani.
Keunikan dari dua kuliner ini juga terlihat dari para penjualnya. Mereka rata-rata ibu-ibu lansia yang tinggal di Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang. Kadang ditemani anak atau cucu mereka. Bahkan ada penjual yang masih ada dari masa saya duduk di bangku sekolah dasar. Tak salah jika mie kacang disebut legendaris.
Soal harga, kedua kuliner tradisional ini sangat ramah kantong. Hanya 10-20 ribu per porsi, tergantung selera. Di pojok pasar sebelah tenggara, ada lapak pukis tradisional. Cara membakar masih tradisional seperti di tahun 1990-an. Kami menyebutnya buroncong.
Inilah keunikan mengunjungi Pasar Sendeng Salubarani yang ada di tanah kelahiran saya.
