Sejarah dan Proses Pembuatan Kopi Cold Brew
Cold brew, yang kini menjadi salah satu minuman kopi populer di seluruh dunia, memiliki sejarah yang menarik. Awalnya, metode penyeduhan ini dikenal sebagai kopi Kyoto, yang mulai diproduksi pada abad ke-17 di Jepang. Saat itu, kapal dagang Belanda membawa teknik ini sebagai cara untuk membuat kopi tanpa memerlukan api yang berbahaya. Dalam proses tersebut, air diteteskan perlahan ke atas bubuk kopi dalam lubang kaca yang digantung seperti menara.
Proses ini dianggap sebagai salah satu metode penyeduhan yang paling artistik di industri kopi. Waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu batch bisa mencapai 24 jam. Kini, kopi ini dikenal dengan nama cold brew karena cara pembuatannya yang tidak menggunakan air panas, melainkan air dingin.
Cara Membuat Kopi Cold Brew
Kopi cold brew dibuat dengan merendam bubuk kopi dalam air dingin selama waktu yang lama, biasanya antara 12 hingga 24 jam. Proses ini menghasilkan rasa yang lebih lembut dan kurang asam, sehingga lebih ramah bagi lambung. Selama waktu ekstraksi yang panjang, bubuk kopi meresap perlahan ke dalam air, menghasilkan konsentrat kopi yang kaya akan rasa.
Selain itu, cold brew dapat disimpan di lemari es hingga dua minggu, menjadikannya pilihan praktis bagi mereka yang ingin menyeduh kopi terlebih dahulu. Minuman ini juga bisa dinikmati langsung tanpa perlu penambahan air atau es.
Perbedaan Rasa Antara Cold Brew dan Es Kopi
Meskipun terlihat serupa dan sangat menyegarkan, cold brew dan es kopi memiliki rasa yang sangat berbeda. Karena proses penyeduhan yang lebih lama, cold brew memiliki keasaman dan kepahitan yang lebih rendah dibandingkan es kopi biasa. Rasa yang dihasilkan biasanya lebih lembut dengan sedikit aftertaste kacang.
Bagi penggemar espresso, cold brew mungkin terasa kurang pekat. Di sisi lain, es kopi biasa cenderung memiliki keasaman dan kepahitan yang lebih terasa. Kopi yang diseduh pada suhu tinggi biasanya menghasilkan ekstraksi yang lebih kuat dibandingkan kopi yang diseduh dengan air dingin atau air bersuhu ruangan. Selain itu, kopi panas yang didinginkan dengan es bisa menghasilkan rasa yang lebih asam dan sedikit encer saat es mencair.
Pengaruh Suhu Terhadap Rasa Kopi
Sebagian besar cold brew diseduh dengan air dingin atau air bersuhu ruangan selama minimal empat hingga 24 jam. Waktu ekstraksi yang lebih lama ini berperan dalam mengurangi keasaman alami dari biji kopi. Meskipun ekstraksi yang lebih lama bisa menghasilkan seduhan yang lebih pekat, cold brew cenderung terasa lebih ringan karena keasamannya berkurang dan rasa manis alaminya muncul.
Menurut Specialty Coffee Association (SCA), ada komponen kimia tertentu dalam kopi yang tidak terlepas saat diseduh pada suhu yang lebih rendah. Hal ini menjadi alasan mengapa cold brew biasanya memiliki pH yang lebih tinggi daripada kopi seduh panas tradisional. Artinya, kadar keasamannya lebih rendah.
Kandungan Kafein dalam Kopi Cold Brew
Karena cold brew membutuhkan lebih banyak bubuk kopi dalam proses pembuatannya, kopi ini memiliki kadar kafein yang jauh lebih tinggi daripada es kopi biasa. Proses penyeduhan yang memakan waktu lama juga memungkinkan kafein dalam biji kopi lebih terekstraksi.
Selain itu, air bersuhu ruangan memungkinkan biji kopi mengeluarkan profil rasa yang berbeda, yang mungkin tidak se-asam atau se-pahit ketika biji kopi diseduh dengan air panas. Namun, karena metode seduh cold brew bervariasi, baik waktu penyeduhan maupun rasio kopi terhadap air, kandungan kafein dalam cold brew tidak dapat digeneralisasi. Tidak semua cold brew mengandung lebih banyak kafein daripada kopi panas.
Secara umum, secangkir kopi cold brew mengandung sekitar 200 mg kafein per 473 mL. Angka ini hampir dua kali lipat jumlah kafein yang terkandung di dalam kopi biasa. Beberapa faktor memengaruhi kandungan kafein, termasuk jumlah biji kopi yang digunakan, ukuran sajian, jenis biji kopi, suhu air, ukuran gilingan biji kopi, dan waktu penyeduhan.
