Menjelajah rasa di kota sejuk Salatiga: Petualangan kuliner dari sate Suruh, ketan serundeng legendaris, hingga getuk Kethek yang unik

Posted on

PasarModern.com – Salatiga selalu punya cara memanjakan para pejalan. Udara yang sejuk, lanskap kota tua peninggalan kolonial, serta kisah-kisah kuliner yang tersebar dari pasar hingga sudut kampung kecil menjadikan kota ini sebagai tujuan ideal bagi pemburu makanan otentik.

 Ada pengalaman berbeda ketika seseorang memasuki kota ini—seakan setiap aroma masakan membawa cerita turun-temurun, dan setiap gigitan menyimpan sejarah panjang yang dilestarikan oleh para penjajanya.

Dalam sebuah episode Wisata Kuliner Salatiga Yang Wajib Dicoba! dari kanal YouTube RUMAH CANDA MELKI, perjalanan kuliner ini direkam dengan luwes: spontan, penuh rasa penasaran, dan tentu saja penuh momen “bikin ngiler”.

Mulai dari sate suruh yang legendaris, ketan serundeng yang langsung ludes sejak siang, hingga ronde jago yang sudah puluhan tahun menjadi incaran pejabat dan artis—semua tersaji dengan keaslian khas Salatiga.

 Perjalanan pun berlanjut ke sebuah kampung singkong yang menyimpan salah satu ikon jajanan: getuk ketek, jajanan tradisional dengan cerita dan cita rasa yang begitu khas.

Dan berikut adalah rangkuman lengkap perjalanan kuliner tersebut.

1. Sate Sapi Suruh: Manis, Pedas, Gurih dengan Aroma Rempah yang Kuat

Perjalanan dimulai dari salah satu kuliner paling direkomendasikan warga: sate sapi suruh, yang konon berbeda dengan sate sapi kebanyakan.

Bukan hanya soal bumbu, tetapi juga aroma rempahnya yang disebut-sebut langsung “masuk ke hidung”.

Daging sapinya empuk, kenyalnya pas, dan bisa dipesan tanpa lemak bagi yang ingin rasa lebih “bersih”. Ketupatnya pun ikut jadi sorotan—lembut, wangi, dan cocok berpadu dengan bumbu sate.

Nama “suruh” sendiri berasal dari Pasar Suruh, tempat pertama kali sate ini diperkenalkan. Hingga kini, sebagian besar pembeli tetap pilihannya sama: sate sapi, meskipun warungnya juga menyediakan bakso.

2. Soto Esto: Kuliner Legendaris yang Harus Diserbu Pagi Hari

Soto Esto sebenarnya masuk daftar wajib. Namun, ketika tiba di lokasi sekitar tengah hari, warung ini sudah tutup.

Banyak warga menyebut bahwa soto ini memang hanya buka pagi dan sering habis sebelum jam makan siang.

Meski belum sempat mencobanya, fakta bahwa soto ini habis begitu cepat membuatnya semakin misterius dan menarik bagi para pecinta kuliner tradisional.

3. Ketan Serundeng Legendaris Pasar Raya: Hangat, Manis, dan Cepat Ludes

Saat mencari ronde jago, perjalanan malah membawa ke sebuah lapak sederhana yang menjual ketan serundeng legendaris. Hanya buka sejak sekitar tengah hari, dan beberapa menit kemudian sudah habis.

Ketan disajikan hangat, gurih, dan manis seperti dibacem, ditambah pilihan lauk seperti babat dan koyor.

 Penjualnya pun ramah—hingga momen spontan terjadi: pembeli yang sebenarnya sedang “mengurangi makanan berlemak”, akhirnya tidak bisa menolak godaan sang ibu penjual.

Tekstur ketannya lembut, aromanya hangat, dan lauk tambahannya benar-benar menggugah selera. Banyak warga setempat menyebut ketan ini sebagai salah satu hidden gems kuliner Salatiga.

4. Ronde Jago: Hangat, Manis, Rumit, dan Legendaris Sejak 1960-an

Ronde jago adalah salah satu kuliner tertua dan paling ikonik di Salatiga. Berdiri sejak tahun 1960-an, ronde ini sudah menjadi langganan banyak tokoh terkenal Indonesia.

Perbedaan utamanya dengan ronde lain terletak pada isiannya:

manisan jeruk, sagu delima, buah pala, kayu manis, kolang-kaling, kacang merah, dan elemen unik lainnya

Semua berpadu dalam kuah jahe yang hangat dan aromatik.

Umumnya, pembeli di sini memesan versi hangat, dan sang penjual sempat “kaget” ketika ada yang meminta versi es. Meski begitu, rasa segar dan manis pedasnya tetap nikmat.

Selain ronde, tersedia juga menu tambahan seperti tape, kopyok, batagor, hingga pangsit tenggiri.

5. Getuk Kethek: Jajanan Kampung Singkong yang Lembut dan Autentik

Perjalanan berikutnya menuju sebuah kampung singkong, pusat produksi getuk, keripik, dan aneka olahan tradisional.

Namun legenda utamanya adalah getuk ketek, jajanan unik yang namanya berasal dari ikon monyet (ketek) sebagai simbol.

Dua jenis getuk ditawarkan:

1.      Getuk kukus putih (original) – hanya tahan 8–10 jam, cocok dimakan hangat. Teksturnya sangat lembut, aromanya wangi, dan rasanya manis alami.

2.      Getuk goreng – tahan hingga 1 hari, dilapisi tepung ringan, dengan bagian dalam berupa singkong tumbuk halus yang gurih.

Saat dicoba, getuk kukusnya benar-benar mencuri perhatian: lembut seperti di-“emut”, terasa santan dan kelapa, cocok dipadukan dengan kopi pahit.

Getuk gorengnya gurih dan ringan, cocok dijadikan oleh-oleh.

Salatiga, Kota Sejuk dengan Jejak Rasa yang Tak Ada Duanya

Perjalanan kuliner di Salatiga membuktikan satu hal: kota ini bukan sekadar destinasi peristirahatan sejak zaman kolonial, tetapi juga pusat kekayaan rasa yang dijaga oleh generasi ke generasi.

Dari sate sapi suruh yang kaya rempah, ketan hangat yang cepat ludes, ronde yang bertahan sejak 1960-an, hingga getuk ketek dari kampung singkong—semua memberikan pengalaman yang tidak biasa bagi siapa pun yang datang mencicipinya.

Salatiga membuktikan bahwa kuliner tradisional bukan hanya soal rasa, tetapi juga perjalanan, cerita, kehangatan, serta interaksi antara penjual dan penikmatnya. Dan bagi siapa saja yang berkunjung, kota ini selalu punya alasan untuk membuatmu kembali lagi.