Jalan-jalan di kawasan Ijen Boulevard, Dieng, atau Kawi di Kota Malang rasanya selalu menghadirkan godaan yang sama yaitu lapar yang bukan sekadar soal perut, tetapi juga tentang eksistensi hidangan pangan lokal juga rasa yang tetap autentik.
Di antara deretan rumah-rumah tua khas kolonial, pertokoan modern, pepohonan yang tinggi dan rindang, dan lalu lintas yang tak pernah benar-benar lengang, ada satu tempat yang bagi banyak warga Malang menjadi rujukan rasa sekaligus nostalgia. Itu dia, warung Pecel Kawi Hj. Musilah.
Sore itu, saya sengaja mampir ke warung ini. Bukan pagi hari, waktu yang konon paling ideal untuk menikmati pecel, melainkan menjelang tutup. Beberapa menu memang sudah habis. Namun semangkuk nasi pecel dengan tambahan telur mata sapi dan perkedel kentang masih bisa saya nikmati. Segelas es timun yang segar pun menjadi penutup yang pas.
Sepiring Pecel di Tengah Kota yang Melaju Pesat
Warung Pecel Kawi Hj. Musilah berlokasi di Jalan Kawi, kios nomor 43B, Kelurahan Kauman, Kecamatan Klojen, Kota Malang. Warung ini berdiri sejak tahun 1975, dan telah melewati berbagai fase perubahan kota. Dari Malang yang tenang Malang hari ini yang riuh oleh kendaraan dan bertaburan kafe-kafe modern.
Pecel Kawi berjalan perlahan mengikuti zaman. Bumbu kacangnya tetap kental, gurih, dengan sentuhan manisnya yang pas. Sayuran rebus seperti taoge, kembang turi, kangkung, kacang panjang, dan kol, disajikan segar dengan rempeyek kacang dan tempe goreng menjadi pasangan setia yang mantap. Kesederhanaan inilah yang menguatkan rasa.
Di tengah budaya makan cepat dan serba instan, sepiring pecel seperti ini menghadirkan koma atau jeda. Kita dipaksa untuk makan dengan pelan, sembari menikmati teksturnya, dan mengingat bahwa makanan tidak selalu harus tampil rumit untuk terasa punya arti.
Warisan Rasa Sejak 1975 Pecel Kawi pertama kali dirintis oleh Hj. Musilah pada tahun 1975. Sejak awal, bumbu kacangnya menjadi kunci. Resep keluarga yang diwariskan lintas generasi itu dijaga dengan konsistensi yang nyaris tanpa kompromi. Tidak heran jika warung ini digemari masyarakat Malang, wisatawan domestik, hingga mancanegara.
Bertahan hampir lima dekade bukan perkara mudah. Banyak warung tradisional gugur di tengah perubahan selera pasar. Namun Pecel Kawi memilih jalan lain, yakni setia pada rasa. Tidak tergoda memodifikasi bumbu secara berlebihan, tidak pula mengubah konsep agar tampak “kekinian”.
Pilihan ini menjadikan Pecel Kawi menjadi ruang memori sosial dan budaya atau bisa disebut collective memory. Para pengunjung yang datang bisa jadi membawa kenangan masa kecil karena ajakan orang tua, sama halnya dengan saya sendiri yang hadir setelah warung ini sudah menjadi “jujugan” atau tempat tujuan untuk sarapan dan berbagi cerita.
Ragam Lauk dan Kekayaan Pangan Lokal
Satu hal yang membuat Pecel Kawi tetap relevan adalah keluwesannya merangkul beragam selera. Selain lauk standar seperti tempe dan rempeyek, tersedia banyak pilihan tambahan: dadar jagung, perkedel kentang, telur dadar, telur mata sapi, telur asin, ayam goreng, empal, hingga sate komoh.
Tak hanya itu, warung ini juga menyajikan menu masakan Jawa Timuran lainnya seperti rawon daging, soto daging, sayur lodeh, dan aneka oseng. Minumannya pun khas seperti es kawis, es timun, hingga kunyit asam. Minuman-minuman ini berbasis bahan lokal, sederhana, namun menyegarkan, dan sekaligus menkjadi pengingat bahwa pangan sehat tak harus mahal.
Bagi pelanggan setia, bumbu pecel Pecel Kawi juga bisa dibeli terpisah. Dengan harga sekitar Rp 55.000,- per 500 gram, bumbu ini memungkinkan siapa pun membawa pulang rasa khas pecel Kawi Malang ke rumahnya sendiri, di mana pun berada.
Murah, Merakyat, dan Berkelanjutan
Warung Pecel Kawi buka setiap hari pukul 06.30 hingga 16.30 WIB. Dengan harga yang ramah di kantong, warung ini menjadi ruang perjumpaan lintas kelas sosial. Pelajar, pekerja, keluarga, hingga wisatawan duduk di meja yang sama, menikmati menu yang sama, tanpa sekat.
Di sinilah nilai penting pangan lokal terasa nyata. Pecel bukan hanya makanan tradisional, tetapi juga contoh sistem pangan yang berkelanjutan. Bahan bakunya mudah didapat, diolah tanpa proses rumit, dan minim limbah. Ia mengandalkan hasil bumi lokal, mendukung petani, sekaligus menjaga pola makan yang relatif seimbang.
Saat isu kesehatan, krisis pangan, dan keberlanjutan menjadi pembicaraan global, sepiring pecel justru memberi jawaban yang sangat membumi.
Terdapat nilai yang diam-diam ditanamkan di saat kita makan di warung Pecel Kawi, yakni tentang kesetiaan pada proses, tentang rasa yang dijaga, dan tentang keberanian untuk tidak selalu mengikuti arus.
Pangan lokal seperti pecel mengajarkan bahwa bertahan bukan berarti menolak perubahan, melainkan memilih mana yang perlu dijaga. Dalam dunia yang gemar mengganti dan memperbarui, Pecel Kawi menunjukkan bahwa konsistensi pun bisa menjadi kekuatan. Bertahan dengan Cara yang Sederhana
Saat saya meneguk sisa es timun sore itu, ada kesadaran yang perlahan muncul. Bahwa di tengah hiruk pikuk kota dan ragam pilihan kuliner modern, pangan lokal seperti Pecel Kawi Hj. Musilah tetap berdiri dengan caranya sendiri. Tidak berteriak, tidak memaksa, hanya setia pada rasa.
Mungkin inilah pelajaran terpenting dari sepiring pecel: bahwa sesuatu bisa bertahan lama karena ia jujur pada akarnya. Bahwa makan bukan sekadar tren, melainkan relasi antara manusia, alam, dan waktu.
Dan selama masih ada orang-orang yang memilih duduk, menyuap nasi pecel, dan menikmati kesederhanaannya, pangan lokal Malang akan terus hidup, pelan, senyap, tetapi sangat sarat makna. Salam Lestari! (Yy).
