Persiapan Industri Mamin Menyambut Momentum Imlek dan Ramadan – Idulfitri
Pengusaha di sektor makanan dan minuman (mamin) kini mulai mempersiapkan diri untuk memanfaatkan momentum Imlek dan Ramadan – Idulfitri. Perayaan tahun baru Imlek akan berlangsung pada Selasa, 17 Februari 2026, yang kemudian dilanjutkan dengan bulan suci Ramadan hingga sebulan ke depan. Kedua momen ini dinilai sebagai peluang besar bagi industri mamin untuk meningkatkan penjualan.
Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi), Adhi S. Lukman, menjelaskan bahwa para produsen telah melakukan persiapan jauh-jauh hari. Mulai dari pengamanan bahan baku hingga peningkatan kapasitas produksi atau utilisasi. Utilisasi industri mamin kini naik menjadi di atas 70% – 80%, dibandingkan rata-rata 60% – 70% pada hari biasa. Peningkatan ini sudah terjadi sejak November 2025 dan akan kembali normal setelah Idulfitri.
Adhi menyebutkan bahwa beberapa kategori produk sudah mencapai utilisasi optimal karena mengejar permintaan pasar. “Permintaan produk mamin selama Ramadan – Idulfitri rata-rata meningkat 20% – 30%. Tapi untuk beberapa kategori seperti sirup, nata de coco, kolang-kaling, dan biskuit, pertumbuhan permintaan bisa melonjak hingga 100%,” ujarnya.
Peningkatan Permintaan Produk Mamin
Selain itu, Imlek juga turut mengerek permintaan produk mamin, meski tidak sebesar Ramadan dan Lebaran. Dengan perayaan Imlek yang langsung berlanjut ke Ramadan, Adhi memprediksi kuartal I-2026 akan memberikan kontribusi sekitar 60% terhadap total penjualan industri mamin pada tahun ini. Secara keseluruhan, kinerja sub sektor mamin diperkirakan tumbuh sekitar 6%.
“Lebih bagus dibandingkan awal tahun lalu yang sekitar 5%. Tahun ini kami lebih optimistis karena insentif pemerintah terhadap masyarakat,” tambah Adhi.
Potensi Pertumbuhan di Berbagai Sub Sektor
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin), Firman Sukirman, melihat potensi pertumbuhan yang kuat karena awal Ramadan berdekatan dengan Tahun Baru Imlek. Akumulasi permintaan sejak awal tahun akan mempercepat perputaran barang di pasar dan mendongkrak performa kuartal pertama secara signifikan.
Konsumsi selama bulan Ramadan seperti kegiatan sosial, silaturahmi, dan buka puasa bersama akan meningkatkan permintaan produk AMDK kategori kemasan gelas dan botol kecil. Secara operasional, rata-rata utilisasi pabrik akan naik sekitar 10% – 15% untuk mengamankan stok, dengan proyeksi permintaan di segmen ritel akan melonjak sekitar 20% – 25%.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim), Triyono Prijosoesilo, menambahkan bahwa periode Ramadan – Idulfitri merupakan masa puncak penjualan produk minuman siap saji dalam kemasan. Periode ini berkontribusi sekitar 30% – 40% dari volume penjualan tahunan. Bahkan, untuk kategori tertentu seperti sirup, kontribusi penjualan dari momentum ini bisa mencapai 80% – 90%.
Tantangan di Industri Mamin
Meskipun ada peluang besar, industri mamin masih menghadapi beberapa tantangan. Pertama adalah ketersediaan bahan baku. Meski mayoritas produsen sudah mengamankan bahan baku untuk memenuhi produksi Ramadan, Adhi mengingatkan pentingnya menjaga ketersediaan secara berkelanjutan. Bahan baku seperti gandum, susu, serta gula dan garam industri masih bergantung pada impor.
Adhi menegaskan bahwa pemenuhan bahan baku dari dalam negeri dapat mengurangi biaya logistik serta risiko eksternal seperti fluktuasi kurs dan eskalasi geo-politik. “Sebetulnya industri mamin ingin dari dalam negeri, agar tidak repot. Kalau impor kan harus sekaligus dalam jumlah besar. Lalu faktor ekonomi dan geo-politik berpengaruh sekali, kalau dolar menguat, semakin berat juga,” ujarnya.
Kedua, faktor ekonomi domestik dan tingkat konsumsi masyarakat. Asrim menyoroti daya beli masyarakat kelas menengah yang masih belum pulih. Kondisi ini bisa berdampak terhadap penjualan produk barang konsumsi. “Harapan kami pemerintah dapat mengimplementasi program-program yang dapat mendukung kelas menengah agar dapat menjaga daya beli mereka,” kata Triyono.
Ketiga, faktor logistik. Gapmmi menyoroti kebijakan pembatasan angkutan barang yang turut mencakup sejumlah kategori produk di industri mamin. Menurut Adhi, perlu ada dispensasi pada sejumlah kategori seperti AMDK, susu, dan pakan ternak untuk menjaga stok di tingkat distributor dan pengecer. Hal yang sama juga menjadi sorotan Aspadin. “Kenaikan biaya logistik dan pembatasan angkutan barang menjelang hari raya merupakan tantangan tersendiri,” tandas Firman.
