Sate Serepeh & Es Kawista: Nikmatnya Kuliner Khas Rembang

Posted on

Setelah sejak pagi mengunjungi berbagai tempat dari museum dan makam RA Kartini, serta kemudian dilanjutkan mampir ke Museum Liem Haritage,  Rembang, Mas Agik, pemandu lokal kami—mengajak rombongan Wisata Kreatif Jakarta mencicipi kembali makanan khas Rembang.

Hari sudah mengarah ke tengah, matahari bersinar terik, dan kami pun diajak mampir makan siang di salah satu warung makan legendaris di kota ini: Sate Serepeh Podomoro di kawasan Grajen, tidak jauh dari museum Liem Heritage.

Tempatnya biasa saja dari luar, bahkan cenderung sederhana, tapi pengunjungnya lumayan ramai. Meja-meja panjang tertata rapat dan hampir semuanya terisi. Rupanya, warung ini sudah terkenal sebagai tempat makan siang favorit warga Rembang. Menu andalannya? Sate serepeh  dan es kawista.

Sate Serepeh : Gurih, Basah, dan Mengikat Lidah

Satu porsi sate ayam selepeh atau serepeh disajikan di atas piring kecil dengan alas daun jati bersama lontong yang dipotong serong. Yang membuat saya langsung tertarik bukan jumlah tusuknya—hanya lima buah dalam satu porsi—tapi kuahnya. Sate ini basah, bukan kering seperti sate Madura atau Padang. Potongan ayamnya juga pipih dan tidak terlalu besar. Kuahnya berwarna kuning tua kemerahan pucat, agak berminyak, dengan aroma santan dan rempah yang kuat.

Begitu suapan pertama masuk, rasa gurih santan langsung menyeruak, berpadu dengan manis halus dari gula jawa dan pedas perlahan dari bumbu cabai. Tidak membakar, tapi menggigit lidah secara pelan dan pasti. Ini bukan tipe pedas yang membuatmu berkeringat, melainkan yang membuatmu ingin tambah.

Satenya empuk, tidak alot, dan dibakar ringan saja. Karena sebelumnya sudah direbus dalam kuah bumbu, rasa rempahnya menyusup sampai ke dalam daging. Ada aroma samar dari daun jeruk, mungkin juga kemiri dan sedikit asam jawa yang membuat kuahnya tidak enek. Rasanya cukup kompleks, tapi tetap membumi. Saya membayangkan ini jenis hidangan yang lahir dari tradisi dapur pesisir utara Jawa—sederhana, tetapi jenius.

Dan meskipun satu porsi hanya lima tusuk, rasanya pas. Mungkin karena kombinasi antara daging, lontong, dan kuahnya yang kaya. Sate ini tidak membutuhkan sambal tambahan atau kecap. Ia berdiri sendiri dengan identitas kuat yang susah dilupakan.

Es Kawista: Minuman Legendaris yang Menyegarkan

Sambil menikmati sisa sate dan mengobrol santai, kami disodori es kawista—minuman dingin yang tampaknya wajib dicoba kalau sedang berada di Rembang atau Lasem. Warna airnya coklat kemerahan mirip cola, tapi baunya berbeda. Tidak heran mbak penjual menyebutnya sebagai Coca Cola Jawa. Ada aroma fermentasi buah yang khas, mirip tape tapi lebih lembut.

Saya menyeruput perlahan. Segar sekali. Rasanya seperti percampuran antara sirup herbal, soda alami, dan sedikit manis seperti buah kurma. Tapi tentu saja ini bukan kurma. Ini adalah kawista—buah lokal dari pohon yang mirip dengan belimbing wuluh kalau dari daunnya, tapi buahnya keras dan berkulit tebal seperti tempurung.

Kawista memang dikenal sebagai buah eksotis yang dulu hanya bisa dinikmati para bangsawan. Kini, ia hadir dalam gelas plastik penuh es batu, menyegarkan kerongkongan dan sangat cocok menemani makan siang di tengah cuaca Rembang yang panas dan lembap. Rasanya tidak terlalu manis, tidak asam, tapi menyimpan sensasi unik yang sulit dibandingkan dengan minuman lain.

Minuman ini tidak hanya menyegarkan, tetapi juga membawa rasa nostalgia. Mungkin karena aroma fermentasi buahnya, atau karena bayangan pohon-pohon kawista yang dulu tumbuh liar di halaman-halaman rumah tua di sepanjang Pantura. Saya tidak bisa memastikan, tapi yang jelas, saya langsung mengerti mengapa es kawista begitu dibanggakan warga sini.

Makan Siang yang Membekas

Warung Podomoro mungkin bukan restoran mewah, tapi ia menawarkan sesuatu yang jauh lebih penting: pengalaman rasa yang otentik. Sate selepehnya berbeda dari sate manapun yang pernah saya coba. Ia tidak berusaha menjadi bintang, tapi diam-diam mengikat lidah dan hati. Begitu pula dengan es kawista—sederhana, tapi meninggalkan kesan yang mendalam.

Makan siang di Rembang ini bukan sekadar mengisi perut. Ia adalah bagian dari perjalanan rasa dan cerita, tentang bagaimana tradisi kuliner lokal bisa bertahan dan tetap hidup di tengah zaman yang serba cepat. Kami pun melanjutkan perjalanan dengan perut kenyang dan hati hangat. Saya tahu, rasa sate selepeh dan es kawista ini akan tetap tinggal dalam ingatan saya, mungkin lebih lama daripada yang saya kira.