Mi, meskipun berasal dari Cina, sangat disukai oleh banyak negara termasuk Indonesia. Ia juga dianggap sebagai nenek moyang berbagai jenis pasta yang populer di Italia.
Penulis: Als | tayang di Majalah Intisari edisi Mei 1999 dengan judul “Cerita Mi Si Janggut Naga”
Makanan yang menyerupai tali ini sangat diminati oleh berbagai kalangan, baik tua maupun muda. Berkat kemajuan teknologi, khususnya industri mi instan, mi semakin populer. Meski asli dari Cina, mi begitu dicintai di Indonesia dan dianggap sebagai nenek moyang berbagai jenis pasta Italia.
Contoh kecilnya adalah saat Dede meminta ibunya untuk membuat mi goreng. Dede belum selesai berbicara, dua kakaknya langsung menyahut, “Aku juga mau! Tapi, yang kuah, ya!”
Peristiwa ini hanya terjadi di satu rumah. Di rumah lain pasti tidak kalah banyak peminat mi. Hal ini menggambarkan betapa populer makanan yang bentuknya seperti tali ini.
Indonesia menjadi konsumen mi instan terbesar kedua setelah Cina pada tahun 1998 dengan konsumsi sebesar delapan miliar bungkus. Mi mulai populer di Indonesia pada tahun 1970-an ketika industri mi modern mulai berkembang.
Meskipun bukan makanan asli Nusantara, mi berasal dari daratan Cina. Ada dua pendapat tentang kapan mi mulai dibuat, yaitu pada masa dinasti Han (206 SM – 220) atau dinasti Sung (960 – 1280). Namun, hal ini tidak perlu dipermasalahkan karena rata-rata resep makanan tidak tercatat secara benar.
Yang jelas, munculnya mi dalam khasanah kuliner terkait dengan perkembangan teknologi penggilingan tepung. Sebelum teknik itu dikenal, hampir semua padi-padian dimasak utuh seperti nasi sekarang. Namun, setelah bisa diubah menjadi tepung, berkembanglah berbagai macam penganan dari tepung seperti kue, roti, dan mi.
Ada dua cara pengolahan mi, yaitu tradisional dengan tangan dan modern dengan mesin. Meskipun berbeda cara pembuatannya, mi tetap bisa dinikmati dalam berbagai olahan. Bisa disajikan hangat-hangat atau dingin, diberi kuah atau digoreng kering renyah, ditambahi potongan daging ayam atau bebek.
Mi paling banyak terbuat dari tepung terigu. Selain itu ada juga mi dari tepung beras, tepung kanji kacang hijau, atau tepung gandum buckwheat. Yang paling dikenal di sini adalah mi dari tepung terigu, tepung beras, dan tepung kanji kacang hijau.
Dari tepung terigu muncul mi telur, yang disebut demikian karena adonannya dicampur kuning telur. Mi telur ini yang paling populer dan dijual dalam bentuk kering atau segar. Bisa dibuat mi goreng, mi kuah, atau salad mi. Juga ada mi yang terbuat dari mi telur yang digoreng kering.
Sementara itu, mi dari tepung beras dikenal sebagai bihun atau kwetiau. Keduanya sama, hanya bentuknya berbeda. Kwetiau pipih dan lebar, sedangkan bihun lebih halus menyerupai rambut.
Dari tepung kanji kacang hijau dihasilkan mi yang dikenal sebagai soun. Penampilannya mirip bihun, namun transparan.
Bersamaan dengan kemajuan teknologi pengolahan bahan pangan, muncullah mi instan yang populer. Mi jenis ini sudah dimasak sebelumnya, lalu dikeringkan dan dikemas secara komersial. Tokohnya adalah Momofuku Ando. Untuk disantap, cukup dituangi air panas dan didiamkan beberapa saat.
Meski praktis dan mudah dibawa ke mana-mana, mi instan tidak disarankan dikonsumsi setiap hari. Salah satu alasannya adalah kandungan penyedap rasa (MSG) yang digunakan sebagai bumbu. Meskipun WHO telah menghapus ambang batas pemakaian MSG, masih ada kontroversi mengenai risiko kesehatannya.
Perhimpunan Organisasi-Organisasi Konsumen Sedunia (IOCU) tetap menolak penggunaan MSG karena dipandang lebih besar risikonya daripada manfaatnya. Dampak negatif MSG antara lain sindrom “restoran Cina” dan sifat karsinogenik.
Untuk lebih aman, mi instan dikonsumsi hanya saat darurat. Penyedap rasa juga merangsang produksi kelenjar liur, sehingga anak-anak cenderung tidak mau makan makanan lain.
Di beberapa tempat di Cina dan Hongkong, seni membuat mi tradisional dengan tangan menjadi tontonan menarik. Adonan ditarik dan dipilin sebanyak empat sampai lima kali, bagian tengahnya dibiarkan menggelayut ke bawah. Proses ini diulang sampai adonan berbentuk tali yang makin panjang dan tipis.
Mi yang paling sulit dibuat disebut long-xu mian atau “mi janggut naga”. Karena sering disajikan sebagai mi goreng, warnanya keemasan, garing, dan bercita rasa khas.
Cerita tentang mi di Jepang juga tak kalah ramai. Di sana dikenal berbagai jenis mi seperti ramen (mi telur), hiyamugi (panjang seperti spaghetti tapi lebih tebal), mai fun (terbuat dari tepung beras), dan soba (dari tepung buckwheat).
Soba bahkan dibuat dengan penuh cita rasa seni. Makanan ini berkembang di masa periode Edo (1603 – 1868) dan disajikan di kedai-kedai makan di sepanjang Jalan Asakusa, sebuah kawasan hiburan di Edo, nama lain dari Tokyo.
Sampai sekarang, orang Jepang datang ke Asakusa untuk makan di restoran dan menikmati makanan khas ini. Membuat soba dengan tangan harus dilakukan oleh ahlinya. Salah seorang “seniman” soba adalah Shigeo Sugano, warga asli Edo.
Tepung buckwheat merupakan bahan baku soba. Konon, dulu tanaman ini bisa tumbuh di tanah yang tidak subur. Maka tak heran jika menjadi tumpuan harapan ketika terjadi kelaparan.
Mi dari negeri Timur ternyata menjadi nenek moyang pasta Italia. Pada 1290, Marco Polo dikisahkan membawa oleh-oleh makanan dari tepung gandum yang diolah berbentuk tali dari Cina ke Venesia, Italia. Sebelumnya, pedagang Jerman pada 1250 sudah menawarkannya kepada penduduk Genoa di Italia.
Orang-orang Italia yang mencicipinya jatuh cinta, meskipun merasa keberatan karena harganya mahal. Makaroni dan saudaranya seperti spaghetti, lasagna, dan vermicelli dikenal sebagai makanan pasta.
Pasta merupakan bahan makanan yang kaya mineral, vitamin B, dan unsur-unsur penting bagi makhluk hidup. Panjang kisah perjalanan mi dari tepung padi-padian ini memang menarik. Namun, cara terbaik untuk mendapatkan makanan bergizi adalah dengan menyantap aneka makanan kaya gizi yang seimbang, bukan hanya bergantung pada satu jenis makanan saja.
