Untuk Bertahan, Hotel Mewah Tawarkan Kuliner Kaki Lima

Posted on

Perubahan di Sektor Perhotelan Tiongkok

Pasar perhotelan di Tiongkok mengalami perubahan signifikan akibat berbagai faktor ekonomi. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak hotel mewah yang mulai memikirkan strategi baru untuk bertahan dalam situasi sulit ini. Perubahan ini tidak hanya terjadi pada harga kamar, tetapi juga pada layanan dan konsep bisnis yang diterapkan.

Penurunan Pendapatan Hotel

Berdasarkan data yang dirilis oleh sejumlah sumber, tarif kamar dan tingkat hunian hotel semakin menurun dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh kondisi pasar tenaga kerja yang ketat, tingginya angka pengangguran, serta penurunan nilai properti. Akibatnya, masyarakat lebih cenderung menghemat pengeluaran mereka, termasuk dalam hal menginap di hotel mewah.

Selain itu, pendapatan rata-rata dari hotel dan layanan katering juga mengalami penurunan. Hal ini memaksa para pemilik hotel untuk mencari solusi inovatif agar bisa tetap menjalankan operasional bisnis.

Strategi Baru: Kuliner Kaki Lima

Salah satu strategi yang diambil oleh hotel-hotel mewah adalah membuka kios makanan kaki lima di luar bangunan mereka. Inisiatif ini tidak hanya memberikan pilihan makanan yang lebih terjangkau, tetapi juga menarik perhatian masyarakat luas.

Contohnya, hotel bintang lima Zhongwu di Changzhou mulai menyediakan makanan kotak dengan harga berkisar antara 20 yuan hingga 100 yuan. Makanan yang ditawarkan meliputi berbagai jenis kuliner seperti rebusan, udang karang pedas, dimsum, dan jajanan kaki lima lainnya. Inisiatif ini sangat diminati masyarakat, sehingga dalam waktu tujuh hari saja, hotel sudah membuat 20 grup WeChat yang masing-masing dibatasi 500 anggota.

Dalam sebuah video yang beredar, seorang koki eksekutif ternama terlihat sedang memasak nasi goreng yang dijual dengan harga 28 yuan. Kuliner kaki lima di hotel ini dibuka setiap sore dengan pembagian 100 tiket pembelian. Biasanya, menu yang tersedia habis dalam waktu lima menit.

Respons Positif dari Masyarakat

Seorang anggota grup WeChat mengaku harus antri sejak pukul 15.00 untuk mendapatkan kupon pada pukul 16.30. Hal ini menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap inisiatif baru ini. Manajer Hotel Zhongwu, Chen Yonghua, menjelaskan bahwa langkah ini dilakukan demi keberlangsungan hotel. Ia menekankan pentingnya memenuhi biaya operasional dan kompensasi karyawan agar bisnis tetap stabil.

Penerapan Serupa di Hotel Lain

Tidak hanya Zhongwu, hotel bintang lima lainnya seperti Noble International juga mengadopsi strategi serupa. Di luar hotel, mereka membuka kios makanan kaki lima pada malam hari dengan hidangan musim panas dalam kotak-kotak makanan yang bisa dibawa pulang. Menu ini dimasak oleh koki bertopi tinggi dan dapat disaksikan langsung oleh pembeli.

Harga yang ditawarkan cukup terjangkau, seperti xiao long xia atau udang karang pedas seharga 38 yuan per 500 gram, bebek panggang seharga 35 yuan untuk setengah ekor, dan 60 yuan untuk satu ekor utuh. Banyak pengunjung memilih untuk berteduh atau menikmati jajanan kaki lima di lobi hotel berlantai marmer.

Namun, suasana ramai di luar hotel kontras dengan acara makan malam di dalam. Di dalam ruangan yang mewah, hotel ini menawarkan prasmanan sepuasnya dengan harga 258 yuan, meskipun jumlah pengunjung yang tertarik cukup sedikit.

Pandangan dari Manajer Hotel

Manajer umum hotel Noble International, Lei Yuming, menjawab anggapan bahwa kios kaki lima tidak pantas dioperasikan oleh hotel mewah. Menurutnya, tidak ada yang salah dengan tindakan ini. Ia percaya bahwa inovasi dan adaptasi menjadi kunci keberhasilan dalam situasi ekonomi yang sulit.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *