Mengenal Tradisi Waisak 2026 dan Kuliner Khas yang Tak Terlewatkan

Posted on

Tradisi dan Kuliner Khas Hari Raya Waisak

Karena tanggal 31 Mei 2026 adalah Hari Raya Waisak yang merupakan libur nasional, sejumlah umat Buddha sudah mulai mempersiapkan segala sesuatunya di momen penting ini. Bagi mereka, Hari Raya Waisak merupakan titik balik. Mereka akan mengadakan beberapa tradisi yang sudah dilakukan secara turun temurun. Di sisi lain, ada juga yang membuat makanan tertentu khas kedaerahannya. Karena itu lah, kami akan coba suguhkan tradisi dan juga makanan di momen Waisak.

Tradisi Hari Raya Waisak

Waisak berasal dari dua bahasa yaitu Vaisakha (Sansekerta) dan Vesakha (Pali) yang berarti nama bulan dalam kalender Buddhis. Adapun tema utama Hari Raya Waisak 2026 adalah “Dharma sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan, serta Cinta Kasih sebagai Sumber Perdamaian Dunia”. Di Indonesia, ada beberapa tradisi Hari Raya Waisak selain pelepasan lampion. Berikut ini adalah kumpulan tradisi Hari Raya Waisak:

  • Berdoa dan bermeditasi di vihara atau kuil untuk merenungkan ajaran Buddha dan kedamaian.
  • Mengenakan pakaian putih sebagai simbol kemurnian dan kesucian.
  • Menerapkan Lima Sila Buddha, yaitu tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berbohong, tidak berzina, dan tidak mengonsumsi minuman keras.
  • Menyalakan lilin atau lampu minyak yang melambangkan penerangan dan mengusir kegelapan.
  • Lilin biasanya berbentuk bunga lotus, simbol keindahan dan kemurnian.
  • Memandikan patung Buddha di vihara sebagai simbol penyucian hati dan pikiran.
  • Mengibarkan bendera Buddha yang memiliki warna dan makna khusus.
  • Memberikan sedekah kepada para biksu dan orang yang membutuhkan sebagai wujud pengorbanan dan kebajikan.
  • Prosesi di Candi Borobudur, termasuk pengambilan air suci dan penyalaan obor, merupakan puncak perayaan Waisak di Indonesia.

9 Kuliner Waisak

Berikut adalah beberapa kuliner khas yang sering disajikan saat Hari Raya Waisak:

  1. Kue Burgo

    Bagi masyarakat Palembang, kue burgo menjadi hidangan gurih yang kerap hadir menyemarakkan Hari Raya Waisak. Meski menyandang nama “kue”, kuliner satu ini sama sekali tidak manis. Burgo terbuat dari adonan tepung beras dan tapioka yang dikukus, lalu digulung hingga menyerupai otak-otak panjang. Dalam penyajiannya, gulungan lembut ini dipotong-potong kecil lalu disiram kuah santan kuning yang kaya akan kaldu ikan gabus atau udang, lengkap dengan taburan bawang goreng. Di balik tampilannya yang bersahaja, kue burgo membawa makna spiritual mendalam tentang ketulusan dan pentingnya menjalani hidup penuh kesederhanaan sesuai ajaran Buddha.

  2. Tempoyak

    Bergeser ke wilayah Sumatra dan Kalimantan, perayaan Waisak juga sering ditemani oleh tempoyak. Kuliner unik berbahan dasar daging buah durian yang telah melalui proses fermentasi ini menghasilkan perpaduan rasa asam, manis, sedikit pahit, dengan aroma tajam yang sangat khas. Khusus untuk momen suci Waisak, tempoyak biasanya diolah tanpa campuran daging atau ikan demi menghormati prinsip vegetarian, melainkan diolah sebagai sambal pelengkap masakan sayur. Melalui proses fermentasi alaminya, hidangan ini merefleksikan nilai kesabaran yang tinggi, welas asih, serta mengajarkan umat untuk selalu berlapang dada dalam menerima setiap perubahan hidup.

  3. Nasi Gemuk

    Jika Jakarta punya nasi uduk, maka Jambi memiliki nasi gemuk sebagai hidangan utama saat menyambut Waisak. Beras putih dimasak bersama santan kental dan aneka rempah wangi seperti daun pandan, daun jeruk, serta daun salam hingga menghasilkan cita rasa yang luar biasa gurih. Satu porsi nasi gemuk biasanya disajikan melimpah bersama lauk pendamping seperti telur rebus, ayam suwir, kacang tanah goreng, sambal, dan kerupuk. Kehadiran kuliner ini di meja makan melambangkan doa akan kesejahteraan, kelimpahan rezeki, sekaligus menjadi perekat kebersamaan dan keharmonisan antaranggota keluarga.

  4. Lotek

    Bagi umat Buddha di Pulau Jawa, lotek adalah kuliner wajib yang sangat selaras dengan prinsip vegetarian (ahimsa atau tanpa kekerasan) dalam Buddhisme. Sekilas hidangan ini mirip karedok atau gado-gado, namun lotek secara khusus menggunakan sayuran hijau yang sudah direbus matang, lalu disiram bumbu kacang kental yang manis-gurih. Sajian sehat ini merupakan simbol visual dari keseimbangan dan keharmonisan hidup. Kesederhanaan bahan-bahan sayur di dalamnya mengajak umat untuk senantiasa bersyukur atas berkah kesehatan dan mempraktikkan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari.

  5. Nasi Lesah

    Magelang, kota yang menjadi pusat perayaan Waisak nasional, memiliki kuliner ikonik bernama nasi lesah. Tampilannya menyerupai soto Betawi karena kuah santan kuningnya yang gurih dan kaya rempah, namun nasi lesah secara tradisional disajikan di atas piring datar, bukan mangkuk. Sepiring nasi lesah hangat biasanya berisi kombinasi bihun, taoge segar, kubis, dan suwiran ayam. Kuliner ini mencerminkan rasa syukur yang mendalam atas berkah kehidupan sekaligus menjadi simbol kedamaian saat dinikmati bersama komunitas dan keluarga besar.

  6. Mangut Beong

    Selain nasi lesah, Magelang juga menawarkan mangut beong sebagai sajian spesial di hari kemenangan Waisak. Hidangan berkuah santan pedas atau kuah merah ini menggunakan bahan utama ikan beong, yaitu ikan endemik Sungai Progo yang memiliki tekstur daging tebal dan lembut. Rasa pedas dan hangat dari bumbu rempah mangut ini mewakili kehangatan hubungan sosial dan eratnya tali persaudaraan. Menyajikan mangut beong saat hari raya merupakan wujud konkret dari rasa syukur atas melimpahnya hasil alam.

  7. Kue Dadar Gulung

    Kue tradisional berwarna hijau pekat ini selalu sukses memikat lidah dengan perpaduan rasa manis dan gurih. Kulitnya yang terbuat dari tepung terigu dan santan membungkus isian unting (parutan kelapa muda yang dimasak bersama gula merah cair). Tekstur gulungannya yang saling mengunci melambangkan persatuan, kerukunan, dan manisnya jalinan silaturahmi antarumat.

  8. Nasi Kuning

    Warna kuning pekat pada hidangan ini didapatkan secara alami dari parutan kunyit yang dimasak bersama beras dan santan. Dalam tradisi perayaan Waisak, warna kuning keemasan ini memiliki tempat terhormat karena dianggap sebagai simbol kejayaan, kemakmuran, dan kebahagiaan. Nasi kuning kerap disajikan dalam bentuk tumpeng sebagai ungkapan rasa hormat dan syukur yang mendalam.

  9. Bubur Abang dan Bubur Putih

    Kombinasi bubur merah (yang dimaniskan dengan gula jawa) dan bubur putih gurih sering hadir dalam tradisi lokal perayaan Waisak di beberapa daerah. Secara filosofis, perpaduan dua warna ini melambangkan keseimbangan jagat raya, baik antara unsur api dan air maupun keselarasan antara jasmani dan rohani. Warna merah melambangkan keberanian hidup, sementara warna putih merepresentasikan kesucian tekad dan ketenangan pikiran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *