Tren Makanan Kukusan untuk Puasa Lancar

Posted on

Tren Makanan Kukus yang Menarik Perhatian Anak Muda

Makanan kukus kini menjadi tren yang diminati oleh berbagai kalangan, termasuk anak muda, baik selama bulan puasa maupun di luar masa tersebut. Salah satu jenis makanan yang populer adalah umbi-umbian yang dikukus, seperti jagung manis, ubi ungu, dan singkong. Banyak orang mulai beralih ke pola makan sehat dengan memilih makanan yang tidak digoreng dan lebih alami.

Berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam Nutrition Reviews (Oxford Academic), puasa Ramadan memiliki dampak positif terhadap risiko sindrom metabolik, termasuk obesitas, dislipidemia, dan tekanan darah tinggi. Namun, ini tidak berarti bahwa kita bebas mengonsumsi makanan apa pun saat berbuka. Banyak orang cenderung mengonsumsi makanan gorengan, manis, atau tinggi kalori, yang justru bisa merugikan kesehatan.

Peminat Makanan Kukus Semakin Bertambah

Idwan Satria, pemilik katering Sweet Delight Kitchen and Pastry, menyatakan bahwa peminat makanan kukus semakin meningkat. Ia menjual berbagai jenis makanan kukus seperti jagung manis, ubi ungu, pisang, telur ayam, dan singkong. Harga per dua buah makanan berkisar antara Rp12.000 hingga harga yang lebih tinggi tergantung variasi.

“Kami menyesuaikan dengan keinginan pelanggan. Ada yang suka pedas, ada yang tidak, dan ada yang sedang menjalani program makan sehat. Kami akhirnya memutuskan untuk menawarkan makanan sehat seperti aneka kukusan, salad buah, dan salad sayur,” ujarnya.

Makanan Kukus Saat Berbuka Puasa

Makanan kukus kini viral dan banyak dicari karena dianggap lebih sehat. Tren ini mencerminkan kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya kesehatan. Ika Setyani, ahli gizi dan humas ASDI (Asosiasi Dietitian Indonesia) Jakarta, menyebutkan bahwa tren anak muda saat ini adalah self-care. Banyak dari mereka mengikuti gaya hidup sehat yang dipengaruhi oleh idola mereka yang memiliki tubuh ideal dan rutin berolahraga.

Menurut Ika, makanan kukus sangat cocok untuk berbuka puasa karena dapat mengembalikan tenaga dengan cepat, menghidrasi tubuh, dan tidak membebani lambung. Namun, ia menyarankan untuk menghindari minuman berisi gula tinggi, makanan berlemak, dan makanan pedas berlebihan.

Alasan Mengapa Makanan Kukus Cocok untuk Puasa

Ika memberikan beberapa alasan mengapa makanan kukus cocok untuk dibuat saat puasa. Pertama, makanan yang dikukus tidak mengandung lemak tambahan sehingga lebih mudah dicerna dan mengurangi risiko gangguan pencernaan. Kedua, makanan seperti jagung, ubi, dan singkong mengandung serat yang membantu melambatkan penyerapan glukosa, sehingga energi terlepas secara stabil.

Namun, Ika juga menekankan bahwa saat sahur, selain makanan kukus yang mengandung karbohidrat, sebaiknya ditambahkan protein agar rasa kenyang lebih lama.

Makanan Kukus Bisa Jadi Tidak Sehat Jika…

Meski teknik mengukus dianggap sebagai cara memasak yang baik, Ika menekankan bahwa makanan kukus tetap harus diperhatikan porsinya dan komposisinya. Septi Rizkiana, ahli gizi dari MRCCC Siloam Hospital Semanggi, menjelaskan bahwa banyak penjual makanan kukus yang kurang padat gizi dan hanya menyajikan karbohidrat saja.

“Seharusnya dalam satu kali makan, terdapat keseimbangan antara protein, sayur, dan karbohidrat,” katanya. Contoh protein yang bisa dimasukkan adalah telur rebus, ayam kukus, tahu, atau tempe. Sayuran seperti brokoli, mentimun, atau selada juga bisa menjadi pilihan.

Selain itu, makanan kukus bisa menjadi tidak sehat jika ditambahkan topping yang manis, gorengan, atau bahan berkalori tinggi. Misalnya, siomay yang dikukus namun disajikan dengan bumbu kacang, saus sambal, atau kecap dalam porsi besar, justru bisa mengurangi manfaat kesehatannya.

Hal yang Harus Diperhatikan Saat Mengonsumsi Makanan Kukus

Seperti makanan lainnya, makanan kukus juga memiliki aturan mainnya sendiri. Orang dengan kondisi medis tertentu, seperti penyakit ginjal, disarankan untuk memilih makanan rebusan daripada kukusan agar kadar kalium dalam tubuh tidak terlalu tinggi. Bagi penderita diabetes, hati-hati dalam mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat tinggi seperti kentang, jagung, dan ubi.

Septi juga menegaskan bahwa konsumsi makanan kukus, terutama umbi-umbian, tidak boleh berlebihan. Kelebihan konsumsi bisa menyebabkan perut kembung, lonjakan gula darah, atau peningkatan berat badan. Bagi yang sedang diet, penting untuk mengetahui batas maksimal makanan yang boleh dikonsumsi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *