Apakah Matcha Layak Dihargai Mahal? Ini Kata Ahlinya

Posted on



Matcha telah menjadi fenomena yang menarik perhatian banyak orang. Banyak orang mulai membicarakan apakah matcha layak dihargai mahal atau tidak. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita dapat mengenal lebih dalam tentang matcha melalui penjelasan dari Oza Sudewo, seorang ahli teh yang dikenal sebagai Indonesian Tea Specialist dan Master Blender.

Kiblat-Kiblat dalam Dunia Teh

Dalam dunia teh, terdapat tiga kiblat utama: kiblat lokal, kiblat Barat/global, dan kiblat oriental. Setiap kiblat memiliki cara penyajian dan tradisi yang berbeda-beda.

  • Kiblat Lokal

    Di setiap budaya, teh memiliki cara penyajian dan konsumsi sendiri. Contohnya adalah teh melati di Jawa, teh hitam Sunda, teh tarik Melayu, masala chai India, teh susu Hongkong, dan teh mentega Tibet.

  • Kiblat Barat/Global

    Kiblat ini mencakup teh celup dan seni tea blending. Teh celup memungkinkan penggunaan teh yang lebih praktis dan mudah dibawa. Sedangkan tea blending adalah seni mencampurkan berbagai jenis teh dengan bunga, herbal, atau buah kering.

  • Kiblat Oriental

    Kiblat ini berakar pada tradisi teh di China, Taiwan, dan Jepang. Di sini, teh bisa memiliki harga yang sangat tinggi, seperti teh pu’er yang bisa mencapai rekor hingga 20 miliar per kilo.



Matcha, yang berasal dari Jepang, merupakan subkultur dari tradisi teh oriental. Awalnya, teh disajikan dalam bentuk bubuk yang dikocok dengan alat mirip chasen. Pada masa lalu, teh sering dikaitkan dengan Buddhisme, karena para biksu Zen menggunakan teh untuk membantu meningkatkan konsentrasi saat meditasi.

Proses Pembuatan Matcha yang Kompleks

Proses pembuatan matcha sangat rumit dan membutuhkan perhatian ekstra. Sebelum dipanen, kebun teh yang akan dijadikan matcha ditutup selama tiga minggu menggunakan kabuse, yaitu penutup dari tikar jerami atau paranet.

Setelah itu, daun teh dipetik secara manual dan diolah menjadi tencha, yaitu daun teh khusus yang lembut. Tencha kemudian digiling menggunakan alat giling batu hingga halus seperti bedak. Dalam satu sesi penggilingan, hanya bisa dihasilkan sekitar 40 gram bubuk matcha.

Ada tiga jenis gilingan dalam dunia matcha: gilingan batu, gilingan keramik, dan gilingan mesin. Gilingan batu memberikan kualitas terbaik, sedangkan gilingan mesin lebih cepat tetapi kurang optimal dalam hal rasa.

Grade Matcha dan Harga yang Berbeda

Matcha memiliki dua grade utama: ceremonial dan culinary.

  • Grade Ceremonial

    Ini adalah matcha premium yang dibuat dari pucuk teh hijau termuda yang dipetik dengan tangan. Biasanya digunakan dalam upacara minum teh ala Jepang. Harganya berkisar antara Rp6 juta hingga Rp15 juta per kilogram.

  • Grade Culinary

    Matcha ini dibuat dari daun teh yang lebih tua dan cocok untuk digunakan dalam resep masakan. Harganya lebih murah, sekitar Rp1 juta hingga Rp8 juta per kilogram.

Harga matcha yang tinggi disebabkan oleh proses produksi yang rumit dan kualitas yang sangat baik. Misalnya, jika sebuah restoran menjual matcha ceremonial seharga Rp400 ribu per cangkir, itu sudah wajar karena biaya produksi dan kualitasnya yang tinggi.

Masalah dengan Matcha China

Beberapa waktu terakhir, pasar matcha mulai ramai dengan produk-produk dari China. Sayangnya, kualitas matcha China masih jauh dari standar Jepang. Proses produksi mereka lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas, sehingga warna dan tekstur matcha China lebih cokelat dan tidak sehalus matcha Jepang.

Selain itu, banyak pengusaha matcha yang hanya mengikuti informasi dari supplier tanpa benar-benar memahami kualitas matcha yang mereka jual. Hal ini membuat konsumen harus lebih waspada dalam memilih matcha.

Kesimpulan

Matcha memang layak dihargai mahal karena proses produksi yang kompleks dan kualitasnya yang tinggi. Namun, konsumen juga perlu memperhatikan kualitas matcha yang mereka beli, terutama jika ingin menikmati sensasi matcha yang autentik. Meskipun harganya agak mahal, rasanya pasti worth it.