PasarModern.com, SEMARANG– Bion Edyson nampak duduk di kursi warungnya sambil menatap layar gawai, seusai mengunggah informasi tentang makan dan minum gratis untuk mahasiswa perantau asal Sumatra.
Di Warung Ramah (Warmah), yang baru tiga bulan ia tempati, Jalan Tirto Agung Nomor 64, Tembalang, Kota Semarang, Bion menyediakan makan gratis untuk mahasiswa perantau asal Sumatra, terutama Aceh, Sumatra Barat (Sumbar), dan Sumatra Utara (Sumut), yang keluarganya terdampak banjir bandang.
Hanya lewat X dan Instagram, kabar itu menyebar seperti dengungan cepat di antara jaringan mahasiswa perantau.
Sejak hari pertama, mereka berdatangan berdua, bertiga, kadang rombongan.
Ada yang masih memakai jaket almamater, ada yang baru turun motor dengan wajah lelah, ada yang membawa tas kecil berisi barang dasar untuk bertahan saat isi kepala sedang campur aduk.
Bion mengungkapkan, Warmah biasanya menjual 80 hingga 110 porsi sehari.
Namun, sejak kampanye makan gratis itu berjalan, hitungannya menjadi fleksibel.
“Asal stok masih ada, berapa pun aku layani,” kata Bion kepada Tribun Jateng, Selasa (9/12/2025).
Sistemnya all you can eat pesan apa pun pada menu yang tersedia di Warmah.
Tunjukkan KTP
Bion membolehkan untuk mahasiswa yang keluarganya jadi korban banjir untuk makan dua kali, tiga kali, sebanyak yang dibutuhkan.
Para perantau datang dengan menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP) atau kartu tanda mahasiswa (KTM), yang membuktikan berasal dari Sumut, Sumbar, atau Aceh.
“Syaratnya, makan di tempat,” katanya.
Mahasiswa Aceh paling banyak datang.
Cerita mereka seragam rumah hilang, ternak yang untuk biaya kuliah malah hanyut, motor lenyap, akses komunikasi terputus lima hari.
Ada yang menunjukkan foto petak tanah tanpa bentuk rumah hanya tumpukan lumpur dua meter yang menyeret seluruh jejak hidup mereka.
Menu di Warmah beragam mulai dari ramen, soto, sampai nasi goreng.
Tapi, nasi goreng padang, hasil racikan teman Bion asal Padang, selalu jadi rebutan.
“Mahasiswa perantau asal Sumatra paling sering pesan nasi goreng padang, mereka bilang rasanya mirip seperti di kampung halamannya,” katanya.
Gerakan ini baru berjalan dua hari ketika mahasiswa mulai berbondong-bondong datang. Hari ketiga makin ramai.
Bion menargetkan bantuan ini berjalan satu sampai dua bulan sampai kampung halaman mereka pulih.
Dana untuk makanan gratis ia pisahkan dari kas operasional.
“Udah dibudget-in. Enggak ngaruh ke warung. Bisnis ini bukan cuma soal profit. Basisnya tetap sosial,” katanya.
Rencananya, Bion juga akan bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip untuk meminta data perantau asal Sumbar, Sumut, dan Aceh dengan tujuan untuk menyuplai kebutuhan makan.
Sebelum program ini, Warmah memang rutin menggelar Jumat Berkah makan gratis untuk mahasiswa setiap Jumat.
Ungaran
Langkah serupa juga diambil Dani Ramadhan (38), pemilik Banana Getz! dan Bebek Sukses Merantau di Ungaran, Kabupaten Semarang.
Dari warungnya di belakang Gapura Perum Korpri, Jalan Bali Raya, Gedanganak, Ungaran Timur, Dani menyediakan makan gratis bagi perantau Sumatra yang keluarganya tengah terdampak bencana banjir besar.
“Saya dulu juga di posisi benar-benar di bawah, lalu pernah dibantu orang lain ketika susah. Sekarang saya merasa ingin berbalas budi kepada Allah, dengan berbuat baik ke orang lain,” kata Dani, Senin (8/12/2025).
Dani mengumumkan kabar baik itu lewat media sosial.
Tak menunggu lama, seorang mahasiswi asal Nias, Sumatra Utara, datang menghampiri warungnya.
“Saya kaget, dia bilang cuma ingin memastikan dan bersilaturahmi, duduk sebentar, tapi tidak mau makan,” tutur Dani.
“Ternyata dia kepikiran keluarganya di Nias,” kata dia.
Keluarga mahasiswi itu selamat, namun kondisi wilayahnya sulit setelah jalur pasok dari daratan Sumatra terputus akibat bencana.
“Saya persilakan makan, namun akhirnya dia cuma ngemil sedikit. Saya tenangkan dia. Saya bilang, kalau butuh makanan, datang lagi saja,” imbuh Dani.
Menu yang dia bagi bukan sembarang menu.
Kadang nasi bebek goreng serundeng khas Madura, kadang ayam serundeng, kadang cukup camilan dari Banana Getz! seperti banana nugget atau risol mentai, apa pun yang hari itu bisa dia masak dan dia tambah stoknya.
“Pokoknya kalau ada yang datang dan butuh, kami siap,” ujarnya.
Solo
Pada saat yang sama, di Solo, I Cut Nona Putri, warga Aceh yang telah lama tinggal di Kota Bengawan, tertegun sedih usai mendengar kabar kampung halamannya disapu bencana alam.
Pemilik warung makan Nyak Cut di Jalan Popda, Solo, tersebut pun bernazar untuk berbagi dengan sesama warga Aceh yang merantau di Solo dengan membagikan makanan gratis.
Cara itu dilakukan Cut Nona sebagai doa agar keluarga besarnya di Aceh Tamiang segera ditemukan.
“Semenjak 3 sampai 4 hari kejadian itu, karena orang tua saya tidak ada info. Jadi saya mengadakan seperti ini dengan tujuan kirim doa biar orang tua saya ketemu karena sempat menghilang 3 sampai 4 hari itu,” ungkap Cut Nona di warungnya, pada Senin (8/12/2025).
Dia mengungkapkan, setelah dia membagikan makanan itu, esoknya langsung ada kabar tentang orang tuanya.
“Niat saya itu ibaratnya kaya nazar bagaimana saya bisa ketemu orang tua saya, kaya zaman tsunami dulu kan gitu,” tutur perempuan asal Kota Kuala Simpang, Aceh Tamiang, tersebut.
“Jadi mungkin dengan cara seperti ini saya bisa temuin papah saya, akhirnya alhamdulillah dengan cara seperti ini, ketemu,” lanjutnya.
Cut Nona juga menerangkan, meski sebagian keluarganya kini sudah ada kabar, namun sang paman sampai detik ini masih belum diketahui keberadaannya.
“Kampungnya habis, tidak ada bangunan sama sekali, kecuali masjid,” jelas Cut Nona.
Dia mengungkapkan, Cut Nona menjelaskan, sejak hari Jumat lalu, ia telah menggratiskan makanan untuk warga Aceh yang ada di Solo hanya dengan menunjukkan kartu identitas ketika makan di warungnya.
“Kurang lebih ya lebih dari 10 warga Aceh, itu mahasiswa semua. Itu asli sana,” katanya.
Ia juga menceritakan ada salah satu mahasiswa asal Aceh yang curhat bahwa harta benda keluarganya habis disapu bencana.
“Makanya, dengan cara seperti ini saya bisa membantu mereka untuk makan selama mereka lapar di sini,” jelasnya.
Saat ditanya sampai kapan ia akan menggratiskan makanan bagi warga Aceh di Solo, Cut belum bisa memastikan.
“Mungkin sampai Aceh membaik. Jadi tidak tahu sampai kapan,” imbuhnya.
Cut menegaskan bahwa ia tidak membatasi warga Aceh yang ingin meminta makan.
“Nggak ada batasnya, intinya membawa KTP atau kartu pelajar,” tandasnya. (Rezanda Akbar D/Reza Gustav/Tribunsolo.com)



