Sudah lama sekali saya tidak menulis di PasarModern.comi. Kali saya sedikit bercerita tentang pengalaman pulang ke kampung halaman saya di kota Siak Sri Indrapura. Saat ini saya tinggal di Pekanbaru sudah lebih dari 5 tahun. Kemarin karena ada urusan saya pulang ke kampung sekaligus menjenguk orang tua yang sedang sakit.
Saya dari Pekanbaru berangkat menggunakan mobil sewa, yang terdiri dari anak saya yang masih kecil-kecil, istri, mertua dan adik ipar. Perjalan ini kami tempuh sekitar 3 jam lebih perjalanan karena kami dari Panam Pekanbaru, waktu tempuhnya lebih lama.
Di Siak itu saya punya rencana untuk membawa makan keluarga besar ke tempat makan semacam pecel lele. Meskipun saya tidak suka lele ya, jadinya saya pesan ayam bakar saja. Niat hati saya ingin membawa keluarga di Siak yakni 2 adik laki-laki, bapak dan mamak. Tapi bapak sakit, jadinya tidak ikut makan.
Ini sebetulnya keinginan saya cukup lama, ingin mentraktir makan keluarga, karena selama saya hidup rasanya belum pernah mentraktir makan semua orang seperti ini. Rencana ini sudah saya diskusikan juga dengan istri. Kami di Pekanbaru, minimal sebulan sekali selalu mengadakan acara makan bersama di mal seperti Living World Pekanbaru. Sedangkan di Siak, itu belum karena waktu yang terbatas.
Singkat kata, kami berangkat ke tempat makan semacam pecal lele di Siak untuk makan bersama. Salah satu ciri khas tempat makan di Siak adalah buku menunya tidak ada harga alias “harga ghoib”. Disinilah permainannya dimulai. Kami dari Pekanbaru sering makan di mal dan dimana pun selalu ada buku menu yang melampirkan harga. Bahkan ketika kami ke Thailand, Singapura dan Malaysia buku menu restorannya selalu ada harga yang tercantum. Sebagai disclaimer, gambar diatas hanya ilustrasi. Bukan gambar yang sebenarnya.
Inilah bedanya jika berkunjung ke Siak, di tempat makan tertentu tidak ada harga yang tertera di buku menu. Hany ada daftar menu saja. Disinilah permainan para kasir atau pemilik untuk menaikkan harga fantastis dan berlipat dari yang seharusnya dengan cara “ketok harga” sesukanya. Sama, kami juga mengalami hal ini ketika makan di Siak. Ketika membayar, tagihan atau bill makanan muncul dan rasanya tidak sesuai dengan yang disajikan. Kami pun pesan nila bakar untuk dibawa pulang, dibeli khusus untuk ibu mertua, tapi dua nila bakar ini tidak layak dimakan alias sudah busuk.
Makan diwarung kaki lima di Siak tapi pengeluarannya setara dengan makan keluarga di restoran mal yang ada di Pekanbaru. Bagi saya memang tidak seberapa, tapi tidak bagi orang lain yang punya budget belanja kecil. Berkunjung atau berwisata kuliner ke Siak bukan lagi wisata yang murah tapi menjadi wisata yang mahal.
Apa Dampak “Ketok Harga” Bagi Bisnis Kuliner?
Saya bersama keluarga di Pekanbaru punya bisnis kecil-kecilan yang dikelola sama-sama, jadi tau berapa harga makanan yang layak untuk menu tersebut. Lagi punya jarak antara Siak dan Pekanbaru tidak jauh, masih satu provinsi dan masih satu negara. Tidak mungkin harganya jauh berbeda.
Disini saya ingin mengingatkan kepada teman-teman pelaku usaha dimana pun berada. Salah satu kunci keberhasilan dalam berbisnis adalah kejujuran dan transparansi. Jika hal ini dibiarkan makan akan berdampak buruk bagi bisnis dalam jangka panjang. Tidak terbangun basis pembeli yang loyal. Tidak tercipta mekanisme promosi dari mulut ke mulut oleh konsumen yang puas, karena saya akan sampaikan ke orang lain untuk jangan makan di tempat tersebut. Tujuannya bukan untuk menjelek-jelekkan, tapi agar pengalaman buruk tidak menimpa mereka.
Keuntungan besar tapi hanya sesaat, hari berikutnya pembeli tidak datang lagi. Sama seperti saya yang tidak akan datang lagi ketempat itu. Jika ke Siak saya lebih suka bawa makanan sendiri dari rumah di Pekanbaru terlebih lagi kami punya usaha catering. Bisa masak yang lebih enak.
Apa Dampaknya Bagi Citra Pariwisata di Siak?
Tentu dalam jangka pendek tidak akan terasa, namum dalam jangka panjang dampaknya bisa dilihat berdasarkan angka-angka seperti:
Jumlah pengunjung tahunanPerkembangan bisnis kulinerPertumbuhan dan pekembangan umkm di SiakJumlah pendapatan pemerintah dari pajak restoran.dan lain-lain.
Restoran atau tempat makan seperti ini mungkin tidak membayar pajak restoran karena tidak ada sistem kasir dengan sistem POS. Dari sini saja pemerintah daerah Siak sudah kehilangan potensi pendapatan daerah. Bisa saja terjadi manipulasi laporan, dengan pemerintah lapor penghasilan kecil tapi dengan konsumen harus bayar mahal. Bisa pula terjadi fraud yang dilakukan oleh kasir.
Dampak lainnya pariwisata daerah sepi, kita bisa melihat bahwa kunjungan orang untuk berwisata ke Siak itu kecil. Jangan berharap dengan wisatawan asing, wisatawan lokal dari kota lain di Riau saja sedikit yang datang ke Siak. Pada akhirnya kota Siak ini akan sepi dari wisatawan.
Orang-orang datang ke Siak bukan lagi mencari kuliner lokal, tapi lebih memilih membawa bekal makanan sendiri. Orang-orang tidak mau datang mencari kuliner lokal, tapi lebih memilih belanja makan yang ada di mini market seperti Indomaret, Alfamart dan swalayan yang menawarkan harga yang jelas.
Bagi pemerintah daerah Siak khususnya Bapenda dan Dinas Pariwisata, saya tidak punya waktu untuk melaporkan kesana sini, tapi jika ingin kuliner Siak maju, pariwisata Siak maju, maka ini harus diperbaiki. Berikan edukasi dan arahan bagi UMKM lokal untuk memberikan penawaran harga yang masuk akal.
Sampai kapan Siak harus bergantung pada uang minyak bumi atau setoran uang dari pusat? Siak harus pandai dalam mencari sumber PAD-nya dari sektor pariwisata ini. Pariwisata Siak tidak akan maju, jika pengelolaannya masih sama dan tidak berubah.
Apakah Semua Restoran di Siak seperti ini?
Tidak semua, tapi jumlahnya cukup banyak. Saya lebih suka makan di tempat makan dengan penawaran harga yang jelas di awal. Bahkan menu yang tawarkan dipasang didinding agar bisa dilihat oleh semua orang. Sebut saja Kedai Kopi Indra Setia di Siak, disini harganya jelas. Tidak heran jika saya selalu membawa istri dan mertua saya makan disini.
Saya tidak akan menyebutkan nama tempat makan yang main ketok harga di Siak. Tapi saya hanya menghimbau agar berhati-hati agar kejadian buruk tidak menimpa anda.
Semoga tulisan ini dibaca oleh pemerintah daerah di Siak dan menjadi referensi bagi teman-teman yang berkunjung ke Siak.



