Kios Mbah Yok: Sebuah Kehidupan yang Berubah Melalui Rempah dan Ketulusan
Di sudut Pasar Gading, Surakarta, aroma rempah dari kios Mbah Yok selalu mengundang perhatian pengunjung. Meski ruangannya sempit, deretan kemasan rempah yang berwarna-warni dan tersusun rapi menciptakan suasana yang hangat dan menyenangkan. Di sana, berbagai wadah berisi rempah kering berjejer apik, bersanding dengan 24 varian wedang rempah berbalut kemasan sederhana yang siap memanjakan pelanggan.
Di balik meja produksi, Dewi Aminah (53) menyambut dengan senyum ramah. “Tunggu lima menit dulu, baru bisa diminum,” ujarnya saat menyajikan cangkir berisi seduhan wedang rempah varian Adem Roso. Bagi Dewi, kios ini bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan sebuah monumen dari ‘sekolah kehidupan’ yang ia alami.
Dewi tidak berasal dari lingkungan praktisi kesehatan. Namun, berkat pengalamannya merawat sang anak yang menderita penyakit perkembangan saraf dan suaminya yang divonis stroke, ia mendapatkan ilmu meracik rempah secara autodidak. “Ini wujud bakti saya ke suami yang sempat kena stroke. Saya merasa tertantang, dulu anak saya sembuh, suami saya juga harus sembuh dengan usaha tangan saya sendiri,” tegas Dewi.
Hasilnya, rempah kering jenama Mahfinara lahir dari usaha Dewi yang mempelajari berbagai buku kesehatan dan berguru langsung ke beberapa ahli. Salah satunya dari Dr. Purwanti Pahrurodji yang memberikan ilmu meracik rempah kepada Dewi saat berkunjung ke kediamannya di wilayah Kampung Kauman, Kota Surakarta.
“Dulu saya cuma bisa empat ramuan sesuai kebutuhan suami saya. Lama-lama ada pelanggan ke sini, punya keluhan ini itu, baru saya belajar lagi meracik sampai sekarang punya 24 jenis ramuan,” terang Dewi.
Sebelum menjadi penjual rempah, Dewi adalah seorang pengusaha sukses di Pasar Klewer, Solo. Sejak tahun 1990 hingga 2014, ia tersohor sebagai pebisnis konveksi seragam dan daster di pasar terkemuka itu. Namun, takdir berputar seketika saat kebakaran hebat melanda Pasar Klewer pada akhir 2014. Kerugian dari kiosnya yang terbakar mencapai Rp4,5 miliar. Dewi memilih berhenti berjualan meskipun Pasar Klewer sudah rampung dibangun kembali pada 2017.
Akhirnya, Dewi memutuskan untuk fokus pada kesembuhan putra bungsunya yang mengidap autisme dan ADHD sejak lahir. Dia meyakini, usaha untuk sembuh tidak hanya bergantung pada obat dan terapi medis, tetapi juga harus dimulai dari kebiasaan hidup sehat. Dengan mempelajari berbagai buku dan mengikuti pelatihan para ahli, akhirnya Dewi mulai membuat bumbu dapur alami dan tepung bebas gluten yang sesuai selera dan kebutuhan sang anak.
Buah dari ketelatenan Dewi memberi asupan gizi dengan makanan terbaik, membuat putra bungsunya dinyatakan sembuh dari autisme di usia 17 tahun. Setelah bergelut dengan aneka olahan bumbu alami dan tepung instan yang lebih sehat, Dewi melirik ada peluang bisnis dari pengalaman tersebut.
“Saya dulu mikirnya cuma buat konsumsi pribadi, tapi kok kepikiran kalau-kalau ada orang yang punya pengalaman sama kayak saya, kenapa nggak saya coba pasarkan,” kenang Dewi.
Di luar dugaan, produk dengan merk Iswara Food yang dipasarkan pada April 2021 itu dapat diterima masyarakat dengan baik. Ketika merintis bisnis tersebut, lagi-lagi Dewi harus mengalami ujian yang menimpa sang suami.
“Lagi sibuk-sibuknya ngurus Iswara Food, tiba-tiba suami kena stroke total. Mulai lagi saya dari nol,” kenang Dewi.
Dengan pengalamannya merawat sang anak, dia pun memberikan metode perawatan yang sama untuk suaminya. Dewi beralih mempelajari cara meracik minuman herbal untuk membantu menguatkan imun sang suami selama satu tahun terakhir. Hasilnya, sang suami dinyatakan sembuh dari stroke berkat ikhtiarnya melakukan terapi dan menghidangkan makanan sehat dari racikannya sendiri.
“Alhamdulillah, suami sembuh dan sudah bisa beraktivitas seperti sedia kala,” kata Dewi semringah.
Ramuan yang awalnya diracik penuh cinta di dapur rumah demi kesembuhan sang suami justru menjadi cikal bakal lahirnya produk wedang rempah kering yang kini dikenal dengan nama Mahfinara.
Bukan Semata Laba, Tetapi Manfaat dan Pemberdayaan
Jika dulu di Pasar Klewer Dewi terbiasa mengejar omzet puluhan hingga ratusan juta rupiah sehari, kini orientasinya telah bergeser total. “Saya dulu maunya nyari uang Rp100 juta, Rp50 juta sehari itu biasa di Klewer. Tapi sekarang mau nyari Rp1 juta sehari aja sulit. Tapi saya lebih bahagia sekarang,” ungkapnya dengan tulus.
Mahfinara kini bukan sekadar mesin pencetak laba, melainkan wadah untuk berbagi literasi kesehatan kepada masyarakat luas. Dewi bahkan sangat terbuka membagikan resep ramuannya. Keistimewaan wedang Mahfinara terletak pada formula tujuh unsur yang ia ciptakan, memadukan bahan-bahan herbal seperti rumput laut kering, pandan, serai, jahe, kayu manis, hingga brotowali dan mahoni untuk varian khusus Adem Roso yang berfungsi sebagai detoksifikasi.
Rasa kemanusiaan Ibu Dewi juga tercermin dari bagaimana ia mengelola rantai pasok bahan bakunya. Alih-alih memotong jalur komersial demi menekan biaya produksi, ia memilih untuk merangkul dan memberdayakan para petani lokal serta pedagang kecil di sekitarnya sebagai sumber kulakan rempah segar.
Dia tidak memilih tengkulak rempah yang besar, melainkan memilih pedagang kecil milik pedagang sepuh di samping kiosnya. “Saya pengen membantu semua, merangkul tetangga. Kadang belinya sedikit, tapi kalau si Mbah ikut senang kan lebih berkah. Dari petani langsung kalau murah, sengaja saya tambahi Rp2.000 per kilo dari harganya. Begitu saja mereka sudah sangat suka,” cerita Dewi sembari tersenyum.
Bertumbuh Bersama BRIncubator
Niat tulus untuk berbagi manfaat ini perlahan menemukan jalan yang lebih luas. Guna memperdalam ilmu bisnisnya, Dewi mengikuti program pendampingan BRIncubator. Di sana, ia dibekali berbagai wawasan manajerial, mulai dari legalitas hingga pengelolaan pasar digital. Dia mengaku mengetahui program dari Rumah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Solo di bawah naungan Bank Rakyat Indonesia (BRI).
“Tahu BRIncubator itu dari komunitas UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah). Saya tertarik soal digitalisasinya. Saya nggak mudeng cara jualan online tuh gimana,” ucap Dewi terkekeh.
Peserta BRIncubator Rumah BUMN Solo periode 2025 itu, mengaku mendapatkan banyak manfaat dari program itu. Menurutnya, pelatihan bisnis tanpa dipungut biaya ini menjadi program inkubasi bisnis yang sarat ilmu dari pelaku UMKM yang lebih profesional.
Lewat inkubasi bisnis tersebut, ia juga mulai terbuka untuk belajar jalur digitalisasi dengan membuka toko online. Kendati saat ini fokus utamanya masih pada manajemen produksi dan pesanan via WhatsApp, Dewi memiliki impian besar untuk segera merekrut tim khusus yang dapat mengelola pemasaran online dan offline secara profesional.
“Saya dibuatin toko online, didampingi cara pakainya gimana, sistemnya seperti apa, dijelasin detail. Tapi ya sekarang nggak kepantau, fokus produksi sama orderan di WhatsApp,” terang Dewi.
Kini, aspek legalitas Mahfinara sudah terbilang matang lantaran produknya telah mengantongi izin P-IRT resmi serta sertifikasi Halal. Langkah Dewi melatih masyarakat pun semakin mulus setelah memperdalam ilmu public speaking dari BRIncubator. Melalui tim kecil yang dibentuknya, ia telah memberikan pelatihan pembuatan ramuan herbal kepada lebih dari 10.000 orang di berbagai kota, mulai dari Solo, Sragen, Magelang, Madiun, Surabaya, hingga Jakarta.



