10 kuliner legendaris Yogyakarta favorit orang lokal, wajib dicicipi saat libur tahun baru

Posted on

PasarModern.com – Libur Tahun Baru selalu menjadi momen favorit untuk bepergian, dan Yogyakarta hampir tak pernah absen dari daftar tujuan utama wisatawan. Selain budaya, alam, dan suasana kotanya yang hangat, Jogja punya satu daya tarik kuat yang membuat orang ingin kembali lagi: kuliner legendarisnya.

Berbeda dengan tempat makan viral yang datang dan pergi, kuliner legendaris Yogyakarta justru bertahan puluhan tahun karena satu hal sederhana, rasanya benar-benar disukai orang lokal. Saat libur panjang, menyusuri kuliner favorit warga Jogja bisa jadi cara terbaik menikmati kota ini secara lebih autentik.

Bagi kamu yang sedang menyiapkan perjalanan Tahun Baru ke Jogja, berikut 10 kuliner legendaris Yogyakarta favorit orang lokal yang bisa jadi rujukan wisata rasa selama liburan.

1. Gudeg, Ikon Rasa Manis yang Tak Pernah Pudar

Tak lengkap bicara kuliner Jogja tanpa menyebut gudeg. Makanan berbahan dasar nangka muda ini dimasak berjam-jam dengan santan dan rempah hingga menghasilkan rasa manis khas yang melekat di lidah.

Orang lokal mengenal dua jenis gudeg: gudeg kering yang legit dan tahan lama, serta gudeg basah dengan kuah santan gurih. Biasanya disajikan bersama nasi, ayam kampung, telur pindang, tahu, tempe, dan sambal krecek pedas. Saat libur Tahun Baru, gudeg sering jadi menu sarapan sebelum memulai perjalanan keliling kota.

2. Sate Klathak, Sederhana tapi Berkarakter

Sate klathak berasal dari kawasan Bantul dan terkenal karena keunikannya. Daging kambing hanya dibumbui garam, lalu ditusuk menggunakan jeruji besi sepeda, bukan tusuk bambu.

Cara ini membuat panas merata hingga ke

dalam daging. Hasilnya, sate terasa empuk dengan aroma khas. Orang Jogja menyukai sate klathak karena rasanya jujur, tanpa bumbu berlebihan, dan cocok disantap hangat di malam hari.

3. Oseng Mercon Bu Narti, Pedasnya Jadi Cerita

Bagi pencinta pedas, oseng mercon sudah seperti “ritual” kuliner di Jogja. Oseng Mercon Bu Narti dikenal dengan tumisan jeroan sapi dan daging yang dimasak bersama cabai rawit melimpah.

Sensasi pedasnya bukan sekadar menyengat, tapi benar-benar ‘meledak’ di mulut. Meski ekstrem, tempat ini selalu ramai, termasuk oleh warga lokal yang menjadikannya menu makan malam setelah beraktivitas seharian.

4. Bakpia Pathok, Oleh-oleh yang Selalu Dirindukan

Bakpia bukan sekadar buah tangan. Bagi orang Jogja, bakpia adalah camilan yang akrab sejak kecil. Versi klasiknya berisi kacang hijau dengan kulit lembut dan sedikit renyah di luar.

Kini varian rasa makin beragam, namun bakpia Pathok tetap mempertahankan cita rasa tradisional. Saat libur Tahun Baru, kawasan Pathuk biasanya ramai wisatawan yang berburu bakpia langsung dari dapurnya.

5. Yangko, Manis Kenyal Penuh Nostalgia

Sekilas mirip mochi, yangko adalah kudapan tradisional dari tepung ketan dengan isian kacang. Teksturnya kenyal dan ditaburi tepung agar tidak lengket.

Bagi warga lokal, yangko sering hadir di acara keluarga atau sebagai suguhan tamu. Rasanya sederhana, manis, dan cocok dinikmati sambil minum teh sore.

6. Geplak Kotagede, Warna-warni Penuh Cerita

Geplak adalah kudapan manis berbahan kelapa parut dan gula. Warnanya mencolok, rasanya legit, dan identik dengan kawasan Kotagede.

Meski terlihat sederhana, geplak menyimpan nilai sejarah sebagai jajanan tradisional yang bertahan lintas generasi. Banyak warga Jogja membeli geplak bukan hanya untuk dimakan, tapi juga sebagai simbol kenangan kampung halaman.

7. Jadah Tempe, Sarapan Favorit Orang Jogja

Perpaduan jadah (ketan tumbuk) dan tempe bacem menghasilkan rasa gurih-manis yang khas. Tekstur ketan yang padat berpadu dengan tempe lembut menjadikan jadah tempe sebagai menu sarapan favorit.

Makanan ini sering disantap pagi hari sebelum memulai aktivitas, termasuk oleh wisatawan yang ingin berangkat lebih awal menjelajahi Jogja saat libur Tahun Baru.

8. Angkringan Lik Man, Malam Jogja yang Sebenarnya

Berada tak jauh dari Stasiun Tugu, Angkringan Lik Man dikenal luas oleh warga lokal. Menu andalannya adalah nasi kucing, aneka sate, gorengan, dan wedang ronde.

Angkringan bukan sekadar tempat makan, tapi ruang berkumpul dan berbincang. Duduk di bangku kayu sambil menikmati suasana malam Jogja menjadi pengalaman yang sulit dilupakan.

9. Soto Batok Mbah Katro, Gurih dalam Batok Kelapa

Keunikan soto ini terletak pada wadahnya—disajikan dalam batok kelapa. Kuahnya gurih, isinya sederhana, dan aromanya menggugah selera.

Orang lokal menyukai soto batok karena rasanya ringan tapi mengenyangkan. Cocok sebagai menu makan siang setelah berjalan kaki menyusuri sudut-sudut kota.

10. Pecel Mbah Warno, Kesederhanaan yang Dirindukan

Sego pecel dengan sambal khas Jogja dan lauk belut goreng menjadi ciri utama Pecel Mbah Warno. Sambalnya tidak terlalu pedas, tapi kaya rasa dan pas di lidah.

Warung ini kerap dikunjungi warga sekitar sejak pagi hari. Saat libur panjang, pecel sering jadi pilihan menu sebelum memulai perjalanan wisata.

Menjelajah Jogja Lewat Rasa di Libur Tahun Baru

Menikmati kuliner legendaris Yogyakarta bukan hanya soal mengisi perut, tetapi juga membaca cerita kota dari dapur-dapur sederhana yang bertahan puluhan tahun.

Saat libur Tahun Baru, menyempatkan diri mencicipi makanan favorit orang lokal bisa membuat perjalanan terasa lebih bermakna.

Jika kamu ingin merasakan Jogja apa adanya, mulailah dari meja makan, karena di sanalah kenangan terbaik sering tercipta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *