Kuliner Khas Solo yang Tercipta dari Kreativitas Kalangan Bawah
Kota Surakarta atau Solo di Jawa Tengah dikenal sebagai kota dengan kekayaan budaya dan kuliner yang beragam. Banyak makanan khas Solo memiliki cita rasa yang menggugah selera dan patut dicoba ketika berkunjung ke kota ini. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa beberapa kuliner terkenal ini justru berasal dari kalangan kelas bawah atau “kawula alit”, bukan dari bangsawan istana kerajaan.
Sejarawan Universitas Sebelas Maret (UNS), Tundjung Wahadi Sutirto menjelaskan bahwa dalam sejarah, ada dua tradisi yang saling bertolak belakang, yaitu “the great tradition” (tradisi besar) dan “little tradition” (tradisi kecil). Tradisi besar biasanya diproduksi oleh kalangan istana kerajaan, sedangkan tradisi kecil merupakan budaya tanding yang diciptakan oleh masyarakat kalangan bawah atau pinggiran.
Makanan dari kalangan istana biasanya memiliki nama-nama yang indah dan elegan, seperti sop daging rempah, dendeng age, nasi londoh pindang, dan sebagainya. Sementara itu, kalangan bawah menciptakan makanan dengan nama yang lebih sederhana dan mencerminkan status sosial mereka.
Berikut adalah lima kuliner khas Solo yang lahir dari kreativitas kalangan bawah:
1. Sate Kere
Sate kere adalah salah satu makanan khas Solo yang dibuat oleh orang-orang kelas bawah. Berbeda dengan sate yang biasanya menggunakan daging sapi, sate kere terbuat dari jeroan seperti kikil, jantung, usus, hati sapi, serta tempe gembus. Semua bahan tersebut dibakar dan disiram dengan bumbu kacang.
Nama “kere” berasal dari bahasa Jawa yang artinya “miskin”. Pada masa lalu, jeroan sapi sering dianggap sebagai barang buangan oleh kalangan atas, tetapi oleh kalangan bawah, jeroan tersebut dimanfaatkan menjadi hidangan lezat.
2. Tengkleng
Tengkleng adalah masakan berbahan dasar daging kambing yang populer di Solo. Dulu, bagian-bagian seperti tulang, jeroan, dan kepala kambing sering dibuang oleh kalangan atas karena tidak diminati. Namun, kalangan bawah memanfaatkan bagian tersebut untuk membuat tengkleng.
Nama “tengkleng” berasal dari bunyi “kleng-kleng-kleng” yang terdengar saat hidangan ini ditaruh di piring logam. Tengkleng menjadi contoh bagaimana masyarakat bawah menciptakan makanan lezat dari bahan-bahan yang dianggap tidak bernilai oleh kalangan atas.
3. Mata Maling
Mata maling adalah camilan khas Solo yang terbuat dari kulit melinjo dan diberi bumbu rempah. Nama “mata maling” dalam bahasa Jawa berarti “mata pencuri”, namun camilan ini justru memiliki rasa yang lezat dan menarik.
Menurut Tundjung, mata maling merupakan produk tandingan dari budaya kelas atas. Meskipun namanya terdengar ekstrem, camilan ini menunjukkan kreativitas masyarakat bawah dalam menciptakan hidangan unik.
4. Lenjongan
Lenjongan adalah makanan khas Solo yang terdiri dari berbagai jajanan pasar. Bahan utamanya adalah singkong, seperti tiwul, ketan ireng, ketan putih, gethuk, sawut, cenil, dan klepon.
Nama “lenjongan” berasal dari kata “lenjok” yang berarti bercampur-campur. Oleh karena itu, lenjongan bisa terdiri dari berbagai jenis makanan yang disajikan dalam satu porsi. Penyajian dilakukan dengan cara “dijumput” tangan, sehingga memberikan kesan sederhana dan ramah.
5. Cabuk Rambak
Cabuk rambak adalah salah satu jajanan khas Solo yang terdiri dari potongan ketupat yang diiris tipis melebar, lalu disiram saus wijen dan diberi kerupuk karak.
Nama “cabuk rambak” berasal dari dua bahan utama, yaitu “cabuk” yang merujuk pada biji wijen, dan “rambak” yang merupakan sebutan untuk kerupuk kulit. Karena kulit mahal, pedagang menggantinya dengan kerupuk nasi.
Menurut Tundjung, cabuk rambak pertama kali ditemukan di padukuhan Mataram, sehingga menunjukkan bahwa makanan ini berasal dari masyarakat umum, bukan dari kalangan istana.
Dari kelima makanan ini, kita dapat melihat bagaimana kreativitas dan adaptasi masyarakat bawah dalam menciptakan hidangan yang lezat dan bermakna. Mereka berhasil mengubah bahan-bahan yang dianggap tidak bernilai menjadi makanan yang bernilai tinggi dan menjadi bagian dari warisan budaya Solo.



