Inovasi Ramah Lingkungan dengan Absorben Boom dari Kapuk
Ade Iis Sumarni, seorang anggota Bank Sampah BS 21 Vila Gading Harapan di Desa Kedungjaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, berhasil menyelesaikan pembuatan absorben boom dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Meski pada awalnya sedikit kesulitan memasukkan kapas ke dalam kain batis, ia mengaku bahwa proses tersebut cukup mudah setelah dipahami.
“Setelah itu, saya dan tujuh anggota lainnya yakin bisa menerima tantangan lebih besar dari PT Pertamina EP Tambun Field,” ujar Ade. Tantangan tersebut adalah pembuatan absorben boom yang akan digunakan untuk menyerap tumpahan minyak jika terjadi kebocoran. Sebagai perusahaan yang membina Bank Sampah BS 21 melalui program Rangkul Raga Bumi, PT Pertamina EP Tambun Field berencana melibatkan anggota binaannya dalam produksi absorben boom sesuai kebutuhan perusahaan.
Sebelum resmi memberikan tugas tersebut, PT Pertamina EP Tambun Field memberikan pelatihan langsung kepada anggota Bank Sampah BS 21. Penyiapan alat dan bahan juga cukup sederhana, yaitu menggunakan kapuk, kain batis, dan benang nilon.
Pengembangan Absorben Boom Berbasis Kapuk
Pembuatan absorben boom berbahan kapuk ini dinamakan KAPUKITA (Kapuk Alam Penyerap Untuk Kendali Insiden Tumpahan di Perairan). Inisiatif ini muncul dari keinginan untuk mengurangi ketergantungan terhadap absorben buatan pabrik yang kurang ramah lingkungan karena hanya bisa digunakan sekali pakai.
Sebelumnya, pihak perusahaan mencoba mensubstitusi absorben pabrik dengan bahan buah bintaro. Namun, proses pengolahan buah bintaro yang rumit membuatnya kurang praktis untuk diproduksi. Hingga akhirnya, keberhasilan PT Pertamina EP Tambun Field dalam menggunakan kapuk sebagai bahan filter dalam sistem penjernihan air memicu ide untuk mengembangkan pemanfaatan kapuk.
Proses Pembuatan KAPUKITA
Menurut Tenaga Ahli Environment PT Pertamina EP Tambun Field, Talitha Jocelin Indiari, proses pembuatan absorben boom KAPUKITA dimulai dengan memisahkan serat kapas dari bijinya. Selanjutnya, serat kapuk direndam dalam air selama 15 menit untuk memastikan kebersihannya.
Setelah dikeringkan, serat kapuk dapat digunakan sebagai isi absorben boom yang dibentuk sepanjang 1,4 meter atau 4 meter dengan diameter 20 cm. Kain batis yang telah dipadati dengan kapuk kemudian dijahit kedua ujungnya menggunakan benang nilon agar kuat dan siap digunakan.
Studi tentang KAPUKITA dimulai sejak Oktober 2024, dan kini mulai digunakan bersamaan dengan absorben boom buatan pabrik dan bahan bintaro. Meskipun penggunaannya masih terbatas pada tumpahan minyak di balong area Tambun Field, pengujian di laboratorium menunjukkan daya serap yang bisa diadu dengan produk pabrik.
“Penyerapan minyaknya bisa sampai 98 persen. Satu absorben boom KAPUKITA ukuran 1,3 meter yang berisi kapuk 7,5 gram bisa menyerap minyak hingga 10 gram. Absorben boom KAPUKITA juga bisa digunakan hingga tujuh kali penyerapan minyak, sehingga lebih ramah lingkungan karena limbah yang dihasilkan lebih sedikit,” jelas Talitha.
Keuntungan Ekonomi dan Lingkungan
Selain ramah lingkungan, biaya produksi absorben boom KAPUKITA juga lebih murah dibandingkan buatan pabrik. Dengan ketersediaan bahan baku kapuk yang cukup banyak di area Tambun Field, inovasi ini menjadi solusi yang efektif dan ekonomis.
“Kami sudah membuat hitung-hitungan. Modal untuk membuat 140 buah absorben boom KAPUKITA hanya sekira Rp 3,1 juta, tapi bisa dijual Rp 100.000 per buah, sehingga keuntungannya sekitar Rp 77.000 per buah,” kata Environmental Officer PT Pertamina EP Tambun Field, Muhammad Fadillah.
Ia menambahkan, saat ini kebutuhan perusahaan akan absorben boom sekitar 150 per tahun untuk memenuhi stok wajib. Namun, jika konsep ini direplikasi di field lain, permintaan akan absorben boom KAPUKITA yang akan dikerjakan oleh Bank Sampah BS 21 pun otomatis akan meningkat.
“Inovasi ini merupakan upaya kami mengurangi limbah, sekaligus bisa menjadi sumber penghasilan baru bagi Bank Sampah BS 21 jika konsep ini berhasil diadaptasi di field lain, bahkan bisa menyasar SPBU yang sama-sama diwajibkan memiliki stok absorben,” katanya.

