Dapur Brounis Paris: Kunci Sukses dengan 5R dan Pendampingan Yayasan Astra
Di Dusun Diro, RT 57, Kalurahan Pendowoharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, aroma harum kue brownies menguar dari bilik dapur yang menjadi pusat produksi UMKM Brounis Paris. Pada siang hari, sejumlah karyawan sibuk menyelesaikan pesanan kue untuk ater-ater, sebuah tradisi masyarakat Jawa yang melibatkan pengiriman makanan kepada kerabat atau tetangga sebagai bentuk silaturahmi dan rasa syukur.
Dapur berukuran sekitar 5×6 meter ini memiliki tata letak yang sangat rapi. Setiap bahan dan peralatan disimpan di tempat yang sesuai, seperti rak besi tiga tingkat yang terdiri dari kontainer berisi stok bahan, stok brounis, perlengkapan, dan peralatan. Tidak ada alat atau bahan yang berserakan, semua tersusun rapi dan bersih. Hal ini menjadi hasil dari penerapan metode 5R, yaitu Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin, yang diajarkan oleh Yayasan ASTRA – Yayasan Dharma Bhakti Astra.
Perubahan drastis setelah Menerapkan 5R
Pemilik UMKM Brounis Paris, Sutrisno atau lebih dikenal dengan panggilan Trisno, menjelaskan bahwa sebelum mengenal konsep 5R, kondisi dapur produksinya sangat kacau. Bahan baku disimpan sembarangan, bahkan ada yang berada di lantai atau kolong meja. Namun setelah mengikuti pelatihan dan pendampingan 5R, ia menyadari pentingnya penataan ruang kerja yang efisien.
Trisno dan tim melakukan penataan ulang tata letak dapur, termasuk penyimpanan bahan dan peralatan. Baginya, menjaga kerapihan dan kebersihan bukan hanya rutinitas, tapi juga bagian dari cara menghargai setiap proses produksi. Hasilnya, dapur Brounis Paris menjadi lebih tertata, bersih, rapi, dan nyaman. Perubahan ini langsung memengaruhi branding UMKM Brounis Paris di media sosial.
Pengaruh Positif pada Branding dan Omzet
Brounis Paris sukses melakukan branding dan promosi melalui Instagram. Akun Instagram Brounis Paris memiliki lebih dari 44 ribu pengikut per 17 Juli 2025. Saat mengunggah konten, banyak warganet memuji kebersihan dan kerapihan dapur Brounis Paris. Efek yang lebih luas adalah peningkatan pesanan kue brownies, yang secara langsung meningkatkan omzet UMKM tersebut.
Puncaknya, UMKM Brounis Paris berhasil meraih juara 1 UMKM dengan 5R Terbaik kategori Kuliner Kerajinan dari Yayasan ASTRA – Yayasan Dharma Bhakti Astra tahun 2025. Selain itu, di tahun yang sama, UMKM Brounis Paris juga dinobatkan sebagai UMKM Mandiri Terbaik kategori Kuliner Kerajinan.
Proses Perjalanan Menuju Kesuksesan
Trisno mengungkapkan bahwa bergabung sebagai binaan Yayasan Astra – Yayasan Dharma Bhakti Astra merupakan keputusan yang tepat. Di bawah yayasan yang didirikan oleh William Soeryadjaya pada 1980 ini, Trisno mendapat banyak pelatihan, pendampingan, hingga konsultasi usaha. Bahkan sertifikat halal yang diperoleh Brounis Paris tidak lepas dari pendampingan yayasan.
Awal mula Brounis Paris dimulai dari dapur rumah mertua Trisno di Jalan Paris, Bantul. Rumah tersebut menjadi saksi perjalanan Trisno dan istri, Firda, merintis bisnis. Firda yang hobi memasak berhasil menemukan resep awal Brounis Paris yang mengingatkan Trisno pada kue brownies kesukaannya saat SMA.
Visi Masa Depan Brounis Paris
Trisno berharap, pangsa pasar Brounis Paris sebagai produsen ater-ater atau hantaran syukuran kian meluas, dengan menjangkau kalangan menengah ke atas. Ia ingin Brounis Paris memiliki paket khusus untuk segmen upper level market. Selain itu, Trisno juga ingin kembali menggarap segmen oleh-oleh yang pernah dicoba, namun gagal. Menurutnya, segmen ini memiliki pangsa pasar yang cukup besar, terlebih karena Yogyakarta sebagai kota tujuan wisata populer.
Untuk mencapai harapan tersebut, Trisno mengakui masih membutuhkan bantuan dan dukungan dari Yayasan Astra – Yayasan Dharma Bhakti Astra. Baginya, pendampingan dan pelatihan berjenjang serta jaringan tetap diperlukan dalam pengembangan bisnis.



