Dewan Kuliner Indonesia: Wadah Baru untuk Memajukan Gastronomi Nusantara
Indonesia kini memiliki wadah baru yang khusus mengurusi dunia kuliner. Organisasi ini dikenal sebagai Dewan Kuliner Indonesia (DKI). DKI terbentuk dari berbagai praktisi kuliner, seperti koki profesional, pebisnis kuliner, komunitas, akademisi, hingga media. Tujuannya adalah untuk menciptakan ruang yang lebih inklusif dan kolaboratif dalam membangun industri kuliner nasional.
DKI menawarkan pendekatan egaliter, di mana setiap anggota memiliki posisi yang sama. Gupta Sitorus, salah satu presidium DKI, menjelaskan bahwa semua anggota DKI bisa disebut sebagai presidium. Hal ini dilakukan agar semua suara dan pandangan dapat didengar secara merata.
Pembentukan DKI dilakukan pada Februari 2025. Saat ini, DKI terdiri dari 13 orang anggota. Di antaranya adalah Vindex Tengker, seorang koki profesional; Rafael Triloko Basanto, mewakili Association of Culinary Professionals Indonesia (ACP); Gupta Sitorus sendiri, yang berasal dari kalangan pebisnis kuliner; Ray Janson, seorang praktisi sekaligus podcaster; serta Tria Nuragustina dari media.
Peran Dewan Kuliner Indonesia
DKI dibentuk dengan tujuan untuk menjadi jembatan antara pelaku kuliner dengan pemangku kebijakan. Menurut Gupta Sitorus, selama ini banyak organisasi yang sudah ada, namun tidak pernah ada satu wadah yang bisa menggabungkan semua pihak tersebut. Dengan adanya DKI, diharapkan masalah dan kepentingan para pelaku kuliner bisa disampaikan secara bersama-sama.
Dalam tahap awal, DKI akan fokus pada hal-hal fundamental, seperti mendefinisikan masakan Indonesia. Empat pendekatan promosi yang digunakan DKI adalah preservasi, pemanfaatan, pengembangan, dan perlindungan. Dalam konteks preservasi, DKI sedang melakukan pemetaan wilayah-wilayah penting yang menjadi fokus baik dalam proses maupun tekniknya.
Selain itu, DKI juga ingin menemukan definisi masakan Indonesia yang lebih jelas. Sebelumnya, Indonesia telah menetapkan lima jenis masakan nasional, yaitu rendang, soto, sate, nasi goreng, dan gado-gado. Namun, masakan-masakan ini jarang diaplikasikan dalam subsektor lain di Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf).
Menurut Gupta, jika melihat contoh dari negara-negara lain, promosi kuliner biasanya dilakukan melalui subsektor lain. Misalnya, Korea Selatan yang sukses mengenalkan kuliner lewat drama dan film, musik, atau buku. Begitu juga dengan Jepang yang menggunakan manga dan animasi untuk memperkenalkan kuliner mereka.
Mempertahankan Tradisi dan Meningkatkan SDM
Di sisi lain, Ray Janson, presidium DKI sekaligus podcaster, menyoroti pentingnya memperkuat sumber daya manusia, khususnya generasi muda. Banyak orang di Indonesia yang jago memasak, tetapi generasi muda seringkali tidak tahu cara membuat masakan tradisional seperti soto atau rendang.
Untuk mengatasi hal ini, DKI berupaya menata gastronomi Indonesia agar lebih terstruktur dan siap dipromosikan ke luar negeri. Salah satu langkah awal adalah kerja sama dengan PHM Hotels, yang memiliki 18 hotel di berbagai lokasi. Dalam kerja sama ini, DKI dan PHM Hotels sepakat mengembangkan program seperti kurasi menu, promosi gastronomi Nusantara, residensi chef, serta aktivasi edukatif dan budaya di properti PHM Hotels.
VP Brand & Development PHM Hotels, Marcia Amandary, menyambut baik kerja sama ini. Ia melihat peluang kuliner dalam aktivitas MICE (Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions) yang semakin diminati. Menurutnya, makanan bisa menjadi bagian dari cerita yang diberikan kepada tamu.
Kolaborasi dengan Pemerintah
Sekretaris Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Kementerian Ekonomi Kreatif RI Amir Hamzah, menyambut baik kerja sama antara DKI dan PHM Hotels. Ia mengatakan, sejak lama Indonesia membutuhkan kolaborasi antara hotel dan sektor kuliner untuk mempromosikan gastronomi Nusantara.
Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia Industri Kementerian Pariwisata Faisal menambahkan bahwa sektor kuliner memegang peran penting dalam gastrodiplomasi dan gastro wisata. Wisatawan yang datang ke Indonesia tidak hanya tertarik pada alam dan budaya, tetapi juga pada kuliner otentik.
Untuk memberikan pengalaman yang maksimal, para pelaku kuliner perlu meningkatkan profesionalisme dan kompetensi melalui pendidikan formal atau sertifikasi. Dengan demikian, mereka bisa menjadi ujung tombak dalam memperkenalkan gastronomi Indonesia ke dunia internasional.



