Festival Kuliner Jalur Rempah 2025: Kombinasi Budaya dan Sejarah dalam Busana Batik
Pada malam perayaan yang penuh semangat, area depan Balai Kota Cirebon menjadi tempat berlangsungnya Festival Kuliner Jalur Rempah (FKJR) 2025. Acara ini tidak hanya menyajikan makanan khas tetapi juga menampilkan kolaborasi seni yang luar biasa. Di bawah lampu panggung dan tepuk tangan penonton, sebuah pertunjukan busana khusus memperlihatkan keindahan budaya dan sejarah melalui desain batik yang unik.
Kolaborasi antara desainer Nina Nugroho dan Batik Samida Cirebon menciptakan karya yang menggambarkan jalur perdagangan dunia. Motif batik yang digunakan adalah Ikosahedron, yang merupakan representasi visual dari jalur perdagangan seperti Jalur Sutra dan Jalur Rempah. Desain ini menggunakan Proyeksi Dymaxion, yaitu peta dunia yang dirancang dengan bentuk ikosahedron, sehingga memberikan pandangan baru tentang hubungan antar negara.
Nina Nugroho mengungkapkan rasa bangga atas kesempatan untuk bekerja sama dengan Batik Samida. Menurutnya, acara seperti FKJR sangat penting dalam mendukung industri kreatif dan melestarikan seni tradisi Cirebon. Ia menilai bahwa kehadiran festival ini menjadi langkah strategis bagi Pemerintah Kota Cirebon dalam menjaga warisan budaya daerah.
Selain itu, Lutfiyah Handayani, pemilik Batik Samida, menjelaskan bahwa motif Ikosahedron berasal dari riset lintas negara. Ia menyebutkan bahwa Cirebon pada abad ke-15 dikenal sebagai gerbang perdagangan yang menghubungkan berbagai bangsa seperti Tiongkok, Arab, Persia, India, Melaka, dan Pasai. Mereka melalui jalur perdagangan rempah di pantai utara Jawa, sedangkan jalur darat seperti Jalur Sutra menghubungkan Asia hingga Eropa.
Proyeksi Dymaxion yang dirancang oleh Buckminster Fuller sendiri memiliki bentuk ikosahedron, yakni polihedron bersisi 20. Ketika dibuka dan diratakan, peta ini menyatukan daratan dunia tanpa sekat batas negara—seperti kain batik yang menyambungkan cerita antarbangsa. Motif ini bukan hanya sekadar bentuk, tapi juga metode pembacaan sejarah perdagangan dunia.
Dalam tangan Nina Nugroho, motif tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk busana modern yang memikat. Hasilnya adalah koleksi busana penuh makna dan keindahan yang menjadi bagian tak terlupakan dari FKJR 2025.
Agus Sukmanjaya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Cirebon, menyampaikan rasa kagum atas penampilan kolaborasi kreatif ini. Ia menyatakan bahwa ini membuktikan potensi luar biasa Kota Cirebon. Selain itu, ia menegaskan komitmen Pemkot Cirebon dalam mendukung pelestarian Wastra Nusantara sebagai identitas budaya.
Festival Kuliner Jalur Rempah 2025 resmi digelar untuk kedua kalinya, membawa pesan yang lebih dalam dari sekadar pesta rasa. Ini adalah selebrasi warisan, identitas, dan ketahanan budaya. FKJR digelar di Gedung DPRD Kota Cirebon dan sekitarnya, Kamis-Sabtu 17-19 Juli 2025 dengan tema “Wastra Nusantara”. Festival ini merupakan bagian dari agenda strategis tahunan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon yang tahun ini mengusung semangat ketahanan pangan, pelestarian budaya kuliner, dan pemberdayaan ekonomi lokal.



