Peristiwa hari raya Idul Adha serta awal tahun baru Hijriyah yang jatuh di tengah masa liburan panjang pada juni 2025 menjadi berkah tersendiri untuk beberapa bidang bisnis, khususnya layanan pengangkutan dan kuliner. Fenomena tersebut diprediksikan dapat memacu peningkatan dalam belanja lokal walaupun ada hambatan ekonomi global yang tetap mengancam.
Beberapa pakar mengestimasi ada kemungkinan gerak saham sektoral yang penting untuk diamati oleh para pemain pasar. Performa perusahaan publik di bidang transportasi dan Food & Beverage diproyeksikan akan terdorong oleh peningkatan aktivitas berkeliling dan pengeluaran orang-orang pada dua musim liburan besar di bulan Juni.
Analis dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menyebut bahwa peringatan hari raya keagamaan seperti Idul Adha biasanya memiliki pengaruh jangktermasuk dalam hal peningkatan konsumsi dan mobilitas orang-orang. Selain itu, beberapa institusi pendidikan juga telah memulai masa liburan mereka menjelang akhir bulan Juni.
“Sebab Idul Adha tahun ini bersamaan dengan masa liburan panjang ataupun akhir pekan, diprediksi kegiatan belanja akan naik,” ujar Liza seperti disebutkan dalam penelitiannya yang dirujuk pada hari Kamis (12/6).
Menurutnya, kegiatan itu memiliki dampak langsung pada berbagai lini pasar, khususnya bidang transportasi berserta industri kuliner dan minuman (F&B). Menurut catatan Liza, melalui data Idul Adha tahun 2024, ada peningkatan pemakaian mobil pribadi di Jakarta hingga 63,6% yang semuanya digunakan untuk liburan dalam negeri.
Sektor F&B pun diproyeksikan akan melihat kenaikan dalam konsumsi saat masa liburan. “Umumnya, orang-orang menyelenggarakan acara makan bersama, yang membuat permintaan atas daging naik dengan cepat,” jelas Liza.
Di bulan Juni 2024, industri makanan, minuman, serta rokok mencatatkan kenaikan penjualan tahunan sebesar 3,5 persen. Meski begitu, Liza memperingatkan tentang perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia merosot dari angka 5,02% hingga ke 4,87%, yang merupakan nilai terrendahnya sejak tahun 2023.
“Kondisi tersebut mencerminkan penurunan kemampuan pembelian masyarakat. Kontributor utama Produk Domestik Bruto (PDB), yaitu kelas menengah di Indonesia, mengalami pengurangan hingga 20%,” jelasnya.
Dia menyatakan bahwa penurunan tersebut dipicu oleh kurangnya pekerjaan terstruktur, invesasi yang rendah pada bidang-bidang bernilai gaji tinggi, serta bergantungnya perekonomian kepada sektor barang mentah dengan bayaran kecil. Akibatnya, penggunaan barang-barang oleh penduduk menjadi lambat dan mengganggu banyak lini bisnis.
Liza menganggap bahwa perayaan Idul Adha serta liburan pada bulan Juni tak akan memiliki dampak besar terhadap performa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara menyeluruh. “Pengaruhnya cenderung sektoral dan hanya berlangsung untuk waktu yang singkat,” ujarnya.
Ini berbeda dari situasi saat Idul Fitri yang dapat meningkatkan konsumsi sebesar 30 hingga 50 persen. Mengingat kondisi ekonomi yang ada, Liza menduga bahwa IHSG tak akan naik secara signifikan pada masa Idul Adha kali ini.
“Meski begitu, sektor-sektor seperti transportasi, pertanian dan makanan-minuman masih memiliki peluang untuk mencatatkan kinerja positif,” ujar Liza.
Melihat peluang pada bulan Juni ini, Kiwoom Sekuritas menyarankan beberapa saham yang layak diperhatikan oleh para pemodal. Beberapa diantaranya meliputi PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO), PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR), serta PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI).



