Strategi Jitu Pizza Suboli: Kuliner Unik Italia dari Susu Boyolali

Posted on

Kehidupan di Lapak Pizza Suboli Saat Car Free Day

Suasana yang ceria dan penuh antusias terasa di deang lapak Pizza Suboli saat gelaran Car Free Day (CFD) berlangsung di Jalan Slamet Riyadi, Kota Solo, Jawa Tengah, pada Minggu (24/5/2026). Kerumunan pembeli tampak antusias mengantre demi menikmati kuliner unik yang disajikan oleh usaha lokal ini.

Melihat antrean yang mengular, pemilik Pizza Suboli, Iwan Tri Wiyono, segera bergegas mengambil plastik untuk membungkus pizza bertopping keju yang dipesan para pelanggan satu per satu. Harga yang ditawarkan cukup terjangkau, hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu saja, masyarakat sudah bisa merasakan kenikmatan makanan khas Italia yang dimodifikasi secara kreatif oleh sang istri, Rahmawati, menggunakan susu segar khas Boyolali.

Pizza Suboli memang memiliki keunikan yang tidak ditemukan pada pizza lainnya. Adonan dasar pizza ini menggunakan susu sapi segar khas Boyolali, sementara bagian topping-nya pun menggunakan keju mozzarella lokal yang diolah sendiri dari bahan baku susu tersebut.

Rahmawati, istri Iwan, mengaku memakai mozzarella dari susu Boyolali untuk bagian toping Pizza Suboli. Namun, di balik kelezatan resep Pizza Suboli saat ini, ada perjuangan panjang yang harus dilalui Rahmawati. Prosesnya tidak mudah dan memakan waktu yang tidak sebentar. Berawal dari sekadar coba-coba, Rahmawati memanfaatkan melimpahnya produsen susu di daerah asalnya, Boyolali, untuk membuat pizza konsumsi pribadi.

Ternyata, pizza eksperimen berbahan susu tersebut sangat memanjakan lidah. Dari sinilah, ia melihat peluang bisnis yang menjanjikan. “Selain itu, masih minimnya produk oleh-oleh dari Boyolali makanya kita berinovasi membuat produk yang bisa dibuat oleh-oleh dan disukai banyak kalangan,” kata Rahmawati. “Awalnya memang saya suka pizza, kalau beli kan mahal makanya saya coba bikin ternyata banyak yang suka,” tambahnya.

Tantangan Modal dan Dukungan KUR

Seperti pelaku UMKM pada umumnya, modal sempat menjadi batu sandungan bagi Rahmawati saat ingin serius membangun usaha Pizza Suboli pada tahun 2017 silam. Beruntung, ia memberanikan diri untuk mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Rakyat Indonesia (BRI). Berkat suntikan modal tersebut, perlahan tapi pasti, Rahmawati bersama suaminya sukses mengembangkan Pizza Suboli hingga tumbuh pesat seperti sekarang.

“Saya nasabah lama, dulu pakai KUR untuk permodalan Pizza Suboli,” jelas Rahmawati. Kini, penjualan Pizza Suboli terus meroket hingga merambah ke seluruh wilayah Solo Raya yang meliputi Surakarta, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten. Proses produksinya sendiri terbilang membutuhkan ketelatenan. Dalam satu kali produksi untuk menghasilkan 30 loyang pizza, Rahmawati membutuhkan waktu hingga delapan jam. Mulai dari mencari bahan baku berkualitas hingga proses pemanggangan pizza dilakukan mandiri oleh Rahmawati dengan bantuan sang suami, Iwan Tri Wiyono.

Strategi Penjualan Fleksibel

Keberhasilan Pizza Suboli menembus pasar Solo Raya tidak lepas dari strategi penjualan yang cerdas. Iwan mengungkapkan bahwa dirinya mengoptimalkan tenaga sales hingga sistem jasa penitipan (jastip) untuk memperluas jangkauan pasar. “Saya punya satu sales yang keliling jual Pizza Suboli di Solo Raya, dia bisa membantu pendapatan per harinya,” ujar Iwan Triwiyono.

Jumlah pesanan pizza akan disesuaikan dengan kapasitas produksi harian, dan sang sales mendapatkan keuntungan mandiri dari tarif jastip yang dikenakan kepada pembeli. Peran sales tersebut tidak hanya sebatas menjual produk secara langsung, melainkan juga berfungsi sebagai media promosi berjalan. “Sales itu bukan cuma jual saja, tapi dia juga kasih nomor telepon buat pelanggan-pelanggan baru bisa order langsung ke saya,” tambahnya.

Sebagian besar Pizza Suboli, berhasil terjual melalui sistem jastip yang digerakkan oleh tenaga sales. Sisanya dijual langsung oleh Iwan secara mandiri menggunakan mobil di area pinggir jalan. “Biasanya produksi Pizza Suboli sehari itu 30 loyang, sales bisa jualin separuhnya lewat jastip. Sisanya saya jual palai mobil di jalan-jalan,” jelasnya. Melihat respons pasar yang sangat positif, Iwan pun sudah menyusun rencana ekspansi ke wilayah lain di masa depan. “Rencana ke depan saya mau jual di Yogyakarta lewat sales, karena Solo Raya sudah bisa digapai.”

Mengatasi Pasar Sepi

Rahmawati mengungkapkan pendapatan Pizza Suboli pasca-pandemi pernah menyentuh angka Rp 8 juta per bulan. Namun, jika berjualan di acara khusus seperti CFD Solo, omzet yang diraup bisa melesat tajam. Hanya dalam waktu lima jam penjualan, mereka bisa mengantongi keuntungan hingga Rp 3 juta. “Omzet sekali jualan di car free day malah banyak, bisa sampai Rp 3 jutaan hanya dari jam 5 hingga 9,” tambahnya.

Meski demikian, pasar di Boyolali sendiri diakui cenderung sepi. Kondisi geografis dan karakteristik pasar lokal memaksa Rahmawati untuk terus memutar otak demi menjaga stabilitas pendapatan usaha. Dari tantangan itulah tercetus ide kreatif berupa program cooking class (kelas memasak) untuk anak-anak sekolah. Melalui program ini, anak-anak diajak belajar membuat pizza sendiri menggunakan adonan berbahan susu Boyolali. Tarif yang dipatok sangat terjangkau, yaitu hanya Rp 40 ribu per anak. Karena merek Pizza Suboli sudah cukup populer di wilayah Solo Raya, Rahmawati tidak kesulitan menarik minat sekolah-sekolah untuk bekerja sama dalam program edukasi visual ini. “Cooking class selama menunggu dipanggang mereka bisa mewarnai, pizza yang dibuat itu jadi oleh-oleh mereka,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *