Apakah Benar Harga Pangan Tetap Stabil Selama Bulan Ramadhan Menurut Prabowo?

Posted on

Presiden Prabowo Subianto
menandakan, untuk pertama kalinya harga bahan makanan terkontrol setelah bertahun-tahun. Bahkan, saat berbagai negara menghadapi kelangkaan persediaan pangan, Indonesia malah sukses meraih surplus pada produksi telur.

Hal ini juga menyebabkan tidak hanya harga telur menjadi lebih terjangkau, tetapi Indonesia juga sukses mengirim ekspor produk telurnya.

“Meskipun banyak negara sedang mengalami keterbatasan beras dan peningkatan harga makanan, ada juga negara dengan sumber daya terbanyak dan termakmur di planet ini yang tengah berjuang untuk mendapatkan stok telurnya. Namun kami bersyukur karena kita telah mulai mengeksport telur dan kondisi pasar telur pun semakin baik serta harganya lebih murah,” ungkapnya pada acara panen raya padi di Randegan Wetan, Jati 7, Majalengka, Jawa Barat, Senin (7/4/2025).

Harga pangan yang tetap menjadi perhatian utama disinggung kembali oleh pemimpin tertinggi negara ini ketika berjumpa dengan tujuh wartawan dari tujuh outlet media nasional di tempat tinggalnya, yakni di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, pada hari Minggu (6/3/2025).

Kata Prabowo,
demi menjaga harga pangan
Dalam masa Ramadhan sampai dengan peringatan Hari Raya Idulfitri tahun 1446 Hijriah, ia senantiasa menghubungi Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman melalui telepon setiap malam. Tujuannya adalah untuk memverifikasi bahwa persediaan bermacam-macam hasil pertanian cukup sepanjang musim suci tersebut.

“Hampir setiap malam saya menghubungi Menteri Pertanian untuk menanyakan tentang harga daging pada hari itu? Apa kabar Harga dan Stok Gabah Kering Panen (GKP)?” demikian katanya dalam wawancara yang dirilis Selasa (8/4/2025).

Menurut dia, mengatur pasokan dan menstabilkan harga bahan makanan sangat penting dilaksanakan guna mencegah Indonesia terkena krisis pangan layaknya kejadian di era 1960-an.

Meskipun saat ini harga bahan pangan masih stabil, Prabowo menekankan kepada timnya, khususnya Menteri Koordinator bidang Pertanian, Zulkifli Hasan, serta seluruh anggota jajarannya untuk tetap waspada supaya sejumlah produk pertanian seperti daging, telur, dan susu bisa dipertahankan pada level yang sama hingga setahun mendatang. Hal tersebut bertujuan agar permintaan akan nutrisi berupa protein oleh penduduk negara ini dapat terlayani tanpa perlu khawatir tentang biayanya menjadi tidak terjangkau.

“Masyarakat kita saat ini perlu dapat merasakan manfaat protein dengan harga yang sungguh terjangkau. InsyaAllah dalam jangka waktu setahun kami berharap hal tersebut akan terwujud,” ungkap Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.

Pada saat yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pertanian,صندIntialized +#+#+#+#+#+$fdata
Zulkifli Hasan
Alias Zulhas menyatakan bahwa kendali atas harga bahan makanan selama Ramadhan dan Idul Fitri tahun 2025 tidak luput dari usaha pemerintah dalam meningkatkan produksi serta merapikan jaringan pendistribusian melalui peraturan yang sesuai. Selain itu, dia meyakini bahwa aturan-atas tersebut bisa dibuat dengan belajar dari pengetahuan sebelumnya guna mengantisipasi kenaikan harga produk pertanian.

Misalkan soal harga produk minyak goreng, menurut Zulhas tabeli hal itu disebabkan oleh peningkatan suplai dari para pelaku usaha. Walaupun begitu, implementasi DMO atau kewajiban pasar domestik yang bertujuan untuk menjaga kelancaran pasokan Minyakita masih sangat terbatas. Padahal, permintaan Minyakita saat bulan Ramadan dan Idul Fitri tahun 2025 cenderung meningkat. Kondisi tersebut akhirnya mendorong harga Minyakita menjadi lebih mahal dibanding dengan jenis-jenis minyak goreng lain yang tidak mendapat subsidi.

“Singkatnya, kemarin kami belajar dari pengalaman sebelumnya. Dulu, stok di pasar memang cukup banyak. Jika ada kegiatan bazar, biasanya jumlah pembeli melebihi kapasitas pasar dan bisa membahayakan situasi tersebut. Inilah poin utamanya. Menurut saya, stok pasar sudah terpenuhi kemarin,” ungkap Zulhas selama acara halal bihalal di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Jakarta Pusat, pada hari Selasa tanggal 8 April 2025.

Suara Keluhan Masyarakat

Sebaliknya, inflasi yang tidak terkontrol menyebabkan rasa khawatir pada Lia Maghfiroh (39). Menghadapi bulan Ramadhan serta perayaan Lebaran tahun 2025 ternyata menjadi beban baginya karena biaya makanannya meningkat. Ia mengeluh dengan situasi ini; meskipun ingin menikmati suasana hari Raya Idul Fitri, dia harus membayar sekitar Rp500 ribu untuk mempersiapkan tiga jenis masakan yaitu opor ayam, sambal goreng ati, dan rendang. Pada hari pertama menjelang lebaran, dia cuma bisa memiliki dua ekor ayam kurang lebih total bobotnya mencapai 3 kilogram, satu kilo gram daging sapi segar bertipe tenderloin, dua buah kelapa sedang dan satu buah lagi kecil, beberapa rempah-rempah di rumah tangga tersebut, lima potong ketupat siap saji, satu kilogram kentang, lalu tujuh sepasang hati dan ampela ayam.

Lia merinci, untuk 1 ekor ayam berukuran sedang setidaknya dihargai Rp45 ribu, naik sekitar Rp10 ribu dari harga normal. Sedang untuk harga daging sapi khas dalam mencapai Rp160 ribu per kg, dari sebelumnya hanya di kisaran Rp130 ribu per kg. Parahnya, kelapa berukuran besar dibelinya dengan harga Rp30 ribu per butir dan Rp20 ribu untuk kelapa berukuran kecil. Padahal, di hari-hari biasa, masing-masing harga kelapa dengan dua ukuran itu hanya di kisaran Rp23 ribu dan Rp8-10 ribu.

“Itu sudah menggunakan rempah-rempah standar. Tidak perlu membeli cabai, bawang merah, atau bawang putih segar lagi. Sepertinya jika ada tambahan seperti cabai dan bawang, rasanya akan semakin baik. Benar-benar gila harganya saat ini,” keluhan Lia terhadap Tirto pada hari Selasa (8/4/2025).

Pada masa Paskah, harga beragam kebutuhan pokok tetap tinggi, walaupun dia menyebutkan bahwa ada sedikit penurunan pada beberapa jenis barang. Sebagai contoh, ia membeli bawang merah dan bawang putih dengan harga masing-masing Rp25 ribu per setengah kilogram hari ini. Ini berarti, jika kita hitung satu kilogram harganya mencapai sekitar Rp50 ribu. Hal tersebut merupakan penurunan dari harga dua hari setelah lebaran dimana harga bawang merah adalah Rp100 ribu serta harga bawang putih menjadi Rp80 ribu untuk sekali belanja satu kilogram.

Meskipun demikian, dengan adanya cabai keriting merah seberat 1/4 kg yang kini dibanderol dengan harga Rp20 ribu atau paling tidak Rp80 ribu per kg, harganya telah mengalami penurunan bila dibandingkan dengan sebelumnya yang bisa mencapai Rp100 ribu. Sementara itu, harga 1/4 kg cabai rawit tetap bertahan pada angka Rp35 ribu. Ini berarti bahwa saat ini 1 kg cabai rawit merah ditaksir seharga sekitar Rp140 ribu, lebih rendah daripada nilai sebelumnya yang sempat naik ke level Rp150 ribu. Walau bagaimanapun juga, kedua varietas cabai tersebut tetap memiliki tingkat “kepedasan” harga yang cukup signifikan.

“Namun, meskipun tinggal bersama yang suka makanan pedas, hasil belanjaannya tampaknya tidak banyak. Tadi saat berbelanja membawa uang hanya sebesar 150 ribu rupiah seperti tidak membuahkan apapun. Hanya ada beberapa buah cabai merah (keriting), rawit (merah), bawang merah dan putih sedikit-sedikit. Ditambah dengan sayuran bayam dua ikat, jagung manis satu batang, dan tempe setengah lembar saja. Sekarang sudah kepikiran ketika harus pergi berbelanja,” ungkap penduduk Rusunawa Pasar Rumput, Setiabudi, Jakarta Selatan tersebut.

Masalah serupa pun dirasakan oleh pemilik warteg bernama Mukroni. Ia sekaligus menjadi ketua dari Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara). Dia mengomentari bahwa meskipun beberapa produk pertanian seperti aneka macam cabai, bawang merah serta bawang putih, bahkan kelapa memiliki harga yang relatif konsisten, namun tetap dalam level tinggi. Jika melihat pada aspek lainnya, penurunan harga sangatlah tidak signifikan atau nyaris tak terdeteksi.

“Beberapa harga ternyata cukup mahal, misalnya kelapa yang bisa mencapaiRp 40ribu tiap bijinya dan cabainya juga telah naik sebelum Idulfitri,” ungkap Mukroni saat berbicara dengan Tirto pada hari Selasa (8/4/2025). Dia menambahkan bahwa kenaikan harga komoditas pertanian ini masih ditemui di Pasar Tebet Barat, Jakarta Selatan.

Meskipun daya beli masyarakat masih mengalami penurunan, pemerintah belum berhasil mempertahankan harga produk pertanian stabil dan terkontrol. Sebagaimana dijelaskan oleh Mukroni, pihak berwenang bertugas untuk memastikan bahwa harga komoditas pangan utama tetap dapat dikonsumsi publik, terlebih lagi bagi mereka yang bergaji rendah.

“Pemerintah harus tetap menjaga kemampuan pembelian publik dengan menghindari peningkatan besar-besaran pada biaya kebutuhan pokok. Selain itu, mereka perlu mendukung para petani agar tidak merugi ketika musim panen berlimpah serta menstabilkan kondisi ekonomi sebab harga bahan pangan memiliki dampak langsung pada laju inflasi dan tingkat kesejahteraan rakyat,” ungkapnya.

Meski demikian, menurut Direktur Center for Sustainable Food Studies dari Universitas Padjadjaran, Ronnie S Natawidjaja, persediaan serta harga bahan pangan saat ini tetap stabil dan terkontrol. Akan tetapi, hal tersebut belum tentu mencerminkan tingkat keaffordable-an-annya, terlebih untuk kalangan dengan pendapatan rendah (KPRM) atau mereka yang termasuk dalam golongan kurang mampu.

Kondisi inilah yang kemudian membuat daya beli masyarakat tak kunjung membaik. Kondisi ini tercermin dari penurunan tingkat inflasi (disflasi) yang terjadi pada Maret 2025, yang sebesar 1,03 persen secara tahunan (year on year/yoy). Inflasi tersebut lebih rendah dari yang terjadi di Februari 2025 yang sebesar 3,05 persen (yoy).

“Stabil ya, tapi stabilnya harga di atas, hingga banyak yang menjerit dan harus prihatin, termasuk masyarakat kelas menengah juga terbebani, sehingga daya belinya turun, maka tingkat konsumsi nasional drop dibanding tahun sebelumnya,” jelas Ronnie, saat dihubungi Tirto, Selasa (8/4/2025).

Apa Penyebab Harga Naik?

Lonjakan harga bahan-bahan pangan yang sudah terjadi sejak sebelum Ramadhan ini, menurut Ronnie disebabkan oleh tidak terkoordinasinya rantai pasok pangan. Padahal, jika antara kebutuhan konsumsi dengan kemampuan atau waktu produksi, pergudangan, hingga kuota impor dapat diatur serta disesuaikan, gejolak harga pangan dinilai tidak akan terjadi.

Dalam hal ini pemerintah berkewajiban untuk mengatur dan menata manajemen rantai pasok pangan nasional ini. Salah satunya, melalui pembangunan jaringan foodhub di setiap pulau dan sentra-sentra produksi serta konsumsi. Kendati, upaya ini membutuhkan perencanaan jangka panjang dan terencana.

“Manajemen supply chain makanan nasional kita kacau dan tak teratur. Hanya jaringan ritel modern saja yang tersusun dengan rapi, sedangkan sistem pasar tradisional seperti hutan rimba dengan biaya transaksi yang mahal,” katanya.

Sedihnya, banyak pejabat negara, terutama mereka yang mengurusi urusan makanan, lebih suka membuat keputusan cepat dan hanya fokus pada solusi jangka pendek. Misalkan seperti menyelesaikan persoalan kelangkaan melalui jalur impor.

Sebenarnya, impor hanya mampu menangani permasalahan pada tahap awal atau ketika proses produksi berlangsung. Namun untuk memastikan bahwa produk pertanian mencapai para pembeli dengan harga yang terjangkau, diperlukan usaha jauh lebih besar daripada cuma melakukan impor saja; hal ini berkaitan dengan perlunya sistem distribusi yang kuat dan efisien. Tentu saja, situasinya tak cukup diselesaikan hanya dengan menyediakan bantuan dalam bentuk beras murah semata.

“Tetapi, jika potensi kelangkaan itu telah dipersiapkan beberapa tahun yang lalu, maka alternatifnya bukan harus melakukan impor, melainkan mengkoordinasikan jadwal penanaman petani dari berbagai daerah sehingga hasil panen dapat mencukupi permintaan sepanjang tahun,” lanjut Ronnie.

Kenaikan harga selama masa Ramadhan dan Idulfitri tampaknya telah menjadi masalah berkelanjutan yang muncul tiap tahun. Meskipun demikian, barang-barang seperti beras serta Minyakitalah umumnya tetap terkendali.

Menurut data dari Panel Harga Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga beras kualitas sedang pada hari Selasa, tanggal 8 April 2025, berada di level Rp13.163 per kg untuk wilayah 1, mencapai angka Rp14.065 per kg untuk wilayah 2, serta naik menjadi Rp15.864 per kg di wilayah 3. Sementara itu, dalam skala nasional, harga rata-ratanya tetap stabil di angka Rp12.500 per kg.

Walaupun pertambahan harganya masih dianggap terkontrol, tetapi pada akhirnya tetap naik,” ungkap Koordinator Koalasi Rakyat Kedaulatan Pangan (KRKP), Ayip Said Abdullah, saat berbicara dengan Tirto, Senin (7/4/2025).

Secara singkat, ketidakstabilan harga bahan makanan dapat ditangani melalui kegiatan operasi pasar (OP), yang sejak dulu dilaksanakan oleh Kementerian Perdagangan serta Bapanas.

” Salah satu aspek yang signifikan, menurut pendapatku, adalah karena pemerintah mengambil bagian dalam mempertahangkan harga melalui persiapan untuk melakukan intervensi di pasar,” jelasnya.

Di samping itu, sejumlah produk utama seperti padi sedang memasuki musim panen lebat. Akibatnya, harganya kecenderungan menurun.

Pada saat yang sama, Satuan Tugas (Satgas) Pangan dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha juga menjalankan tugasnya dengan baik untuk melakukan pengawasan terhadap berbagai komoditas pangan, sehingga berpengaruh positif terhadap stabilitas pasokan dan harga pangan.

Akan tetapi, di luar hal tersebut, untuk jangka waktu yang lebih lama, pemerintah tentu harus mencari opsi yang lebih konkret daripada hanya melakukan impor sebagai jawabannya.

“Di masa mendatang, usaha untuk memperkuat persediaan utamanya dari dalam negeri, pengawasan dengan partisipasi masyarakat secara luas serta penegakan hukum menurut saya harus terus diperbaiki. Melihat kondisi cuaca yang tak dapat diprediksi, hal ini bisa mengakibatkan gagal panen dan berpotensi meningkatnya harga,” tegas Said.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *