Tradisi Rasa yang Menggugah Selera di Palembang
Di tengah gemerlap perayaan kemerdekaan, Palembang tidak hanya dikenal dengan bendera merah putih yang berkibar, tetapi juga dengan aroma lezat dari berbagai makanan tradisional yang hadir setiap bulan Agustus. Salah satu yang paling diminati adalah Telok Ukan, jajanan khas yang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan 17 Agustus.
Telok Ukan adalah makanan yang memiliki rasa unik dan tekstur yang menarik. Berbeda dengan telur rebus biasa, Telok Ukan memiliki cangkang telur bebek yang diisi dengan adonan hijau pandan yang lembut dan gurih. Tidak heran jika jajanan ini selalu menjadi incaran warga Palembang saat memperingati hari kemerdekaan.
Bagi warga Kota Palembang, kehadiran Telok Ukan tidak lengkap tanpa sajian lain seperti Telok Pindang dan Ketan Kepit. Ketiga makanan ini sering ditemukan di lapak-lapak pedagang musiman, menciptakan simfoni rasa yang menggugah selera dan mengingatkan akan semangat kemerdekaan.
Sejarah yang Terus Dilestarikan
Di balik rasa lezatnya, Telok Ukan memiliki cerita yang panjang. Di sebuah rumah sederhana di Jalan Syeh Abdul Somad, Kelurahan 22 Ilir, seorang “maestro” Telok Ukan menjaga tradisi ini. Dialah Noni Maryani (58), atau akrab disapa Cek Noni, generasi ketiga yang mewarisi resep otentik dari nenek moyangnya.
“Dulu orang sering bertanya, ini telur betulan atau bukan? Jadilah namanya Telok Ukan,” kenang Cek Noni sambil tersenyum. Nama yang lahir dari rasa penasaran itu kini melegenda dan menjadi ikon kota Palembang.
Setiap hari selama bulan Agustus, ritual kuliner yang rumit dilakukan oleh Cek Noni dan suaminya, Zainal Abidin (59). Proses pembuatannya dimulai dengan melubangi cangkang telur bebek, lalu isinya dikeluarkan dan diganti dengan adonan istimewa. Adonan tersebut dibuat dari telur bebek yang dikocok, ditambah sedikit kapur sirih untuk mendapatkan hasil yang optimal, serta pewarna alami dari jus pandan dan daun suji.
Cek Noni pun berbagi rahasia penting dalam proses pembuatan Telok Ukan. Adonan tidak boleh dikocok dengan mixer agar tidak berbuih, dan tidak menggunakan santan agar tidak cepat basi. Setelah adonan dimasukkan kembali, lubang cangkang ditutup dengan sumbat dari akar gabus, lalu dikukus perlahan selama setengah jam.
Keberhasilan yang Tak Terduga
Telok Ukan bukan hanya sekadar makanan tradisional, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi keluarga Cek Noni. Sejak memulai usahanya pada tahun 1980, kuliner ini telah menjadi penopang hidup keluarganya. Omzetnya bahkan mencapai angka yang mengejutkan.
“Alhamdulillah, tahun kemarin omzetnya mencapai Rp 20 juta,” ungkapnya penuh syukur. Bahkan saat pandemi Covid-19 melanda, pesonanya tidak pudar. Penjualannya justru meroket hingga Rp 27 juta dari 5.000 butir telur bebek.
Berkah dari Telok Ukan bahkan membawa Cek Noni dan suaminya menunaikan ibadah umrah sebanyak dua kali. Rasa otentiknya tidak hanya memikat lidah warga lokal, tetapi juga terbang hingga ke Jakarta, membuktikan bahwa Telok Ukan adalah primadona yang dinanti-nantikan.
Warisan yang Harus Dilestarikan
Cek Noni menitipkan wasiat kepada keenak anaknya, terutama dua putrinya, untuk tidak meninggalkan Telok Ukan dan terus melestarikannya. Ia percaya bahwa jajanan ini adalah bagian dari warisan budaya yang harus dipertahankan.
Di tengah hiruk pikuk Jalan Merdeka, pesona Telok Ukan terbukti mampu melintasi zaman. Nurul (25), seorang Gen Z, tidak pernah absen membelinya. “Telok Ukan enak, gurih. Setiap 17 Agustusan kami pasti beli ini. Harganya terjangkau dan yang jual khasnya hanya di sini,” katanya.
Senada dengan Nurul, Mei (56), warga Pakjo yang setia menyambangi lapak di depan Kantor Walikota setiap Agustus, memuji rasa Telok Ukan. “Lemak, gemuk, dan gurih,” ujarnya dengan dialek khas Palembang. Ia pun berbagi cara menikmatinya, yaitu dengan menyantapnya bersama Ketan Kepit.
Dengan harganya yang terjangkau dan rasanya yang tak terlupakan, Telok Ukan lebih dari sekadar makanan. Ia adalah pengikat kenangan, simbol perayaan, dan saksi bisu semangat kemerdekaan yang terus hidup di jantung Kota Palembang. Mencicipinya bukan sekadar mengisi perut, melainkan merasakan sepotong sejarah yang gurih dan melegenda.



